Jurnalpantura.id, Kudus – Proyek pelebaran dan pengaspalan ulang Ruas Jalan Kudus-Kaliwungu di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, terus dikebut. Pekerjaan yang menelan anggaran sekitar Rp2,5 miliar tersebut ditargetkan selesai pada akhir September 2026, lebih cepat dari batas waktu kontrak yang berakhir pada awal Oktober.
Pelebaran jalan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Kudus sebagai upaya mengurangi kepadatan kendaraan di kawasan perempatan Jetak. Titik tersebut selama ini menjadi salah satu lokasi yang kerap mengalami antrean, terutama pada jam sibuk ketika aktivitas masyarakat berangkat dan pulang kerja maupun sekolah meningkat.
Kepala DPUPR Kudus, Harry Wibowo, mengatakan ruas Kudus-Kaliwungu memiliki peran penting karena menjadi salah satu akses utama yang menghubungkan Kudus dengan Kabupaten Jepara.
Menurutnya, tingginya mobilitas kendaraan di jalur tersebut membuat pelebaran diperlukan, khususnya untuk memperlancar arus kendaraan dari arah Kudus menuju lingkar barat.
“Jalur ini sangat vital karena menghubungkan Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Jepara. Banyak pekerja dari Kudus yang melintas ke arah Jepara atau sebaliknya. Dengan pelebaran ini, kendaraan dari arah Kudus menuju lingkar barat bisa langsung belok kiri, sehingga tidak menambah antrean panjang,” ujar Harry saat meninjau pekerjaan bersama Kabid Bina Marga dan tim kontraktor, Selasa (1/9).
Pekerjaan pelebaran mencakup ruas sepanjang sekitar 750 meter. Sisi selatan jalan atau sebelah kiri dari arah Kudus menuju Jepara diperlebar sekitar 2,8 hingga 3 meter.
Selain memperluas badan jalan, konstruksi bagian bawah juga diperkuat. Lapisan fondasi menggunakan Lapis Pondasi Bawah (LPB) dan Lapis Pondasi Atas (LPA) sebelum dilanjutkan dengan pengaspalan.
Untuk lapisan permukaan, jalan akan mendapatkan dua lapis aspal, yakni AC-BC dan AC-WC dengan ketebalan keseluruhan sekitar 8-9 sentimeter. Dengan pekerjaan tersebut, lebar jalan yang sebelumnya berkisar 6,5 hingga 7 meter akan bertambah menjadi sekitar 9 hingga 9,5 meter.
Harry menyebutkan, perkembangan pekerjaan di lapangan saat ini berada di kisaran 30 hingga 36 persen. Meski masih dalam proses, pihaknya optimistis pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target yang telah ditetapkan.
Di sisi lain, DPUPR Kudus mencatat progres fisik keseluruhan paket pekerjaan hingga akhir Agustus mencapai sekitar 31 persen. Capaian tersebut mencakup sejumlah pekerjaan infrastruktur, mulai dari jalan, drainase, jembatan, hingga irigasi.
“Seluruh paket pekerjaan dipastikan sudah menandatangani kontrak kerja dengan target rampung serentak pada akhir Oktober atau awal November,” jelasnya.
Mengenai serapan anggaran yang masih berada di angka 31 persen, Harry mengatakan kondisi tersebut tidak menunjukkan adanya perlambatan pekerjaan di lapangan. Rendahnya realisasi keuangan lebih disebabkan sejumlah kontraktor belum mencairkan uang muka pekerjaan.
“Secara administrasi semua sudah teken kontrak. Realisasi keuangan baru tercatat 31 persen di akhir Agustus karena banyak kontraktor yang memilih belum mengambil uang muka kerja. Namun, pengerjaan di lapangan tetap berjalan sesuai jadwal,” pungkasnya. (J02/A01)










