JurnalPantura.id, Kudus – Calon Bupati Kudus HM Hartopo dan Calon Wakil Bupati Kudus Mawahib silaturahmi meninta restu dan mauludan bersama Bib Bidin Al-Kaff beserta para santrinya di Garasi Mulyo Grup, Karangsambong, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus pada Jum’at malam (05/10)
Turut hadir dalam kegiatan hangat tersebut Habib Ali Zaenal Abidin Alkaff adik Habib Ja’far Alkaff, Habib Abu Bakar Assegaf, dan para Gawagis (gus-gus) memanjatkan doa Maulid Nabi dan dukungan kepada paslon 02 dalam jalannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024.
Calon Bupati Kudus dari 02, Hartopo mengatakan bahwa kegiatan kali ini ialah turut berdoa bersama dan meminta restu kepada kiai serta para gus agar dapat dukungan untuk melanjutkan pengabdiannya kembali memimpin Kudus bersama Mawahib.
“Ini kegiatan Maulid Nabi yang dihadiri juga seluruh Muhibbin dan gus-gus yang ada di Kabupaten Kudus yang sepenuhnya totalitas beliau-beliau mendukung kita,” ujarnya usai acara.
Sementara itu, Cawabup Mawahib yang juga sebagai santri dari Bib Bidin Al-Kaff menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai langkah untuk mendapat dukungan dan doa restu menjadi pemimpin di Kota Kretek.
“Ini acara yang sangat mubarokah (diberkati), sesuai dawuh (arahan) beliau, Alhamdulillah dengan bersama para santri beliau kami paparkan program visi misi yang kami tuangkan sesuai dengan tradisi santri,” katanya.
“Malam ini beliau dan santri-santri beliau ingin Memauludurosul sekaligus silaturahim dengan kami sebagai paslon, bukan santri, kalau sebagai santri ya sudah sering ketemu,” lanjut Mawahib.
Mawahib bercerita bahwa adab itu lebih utama daripada ilmu. Dengan latar belakangnya mengenai urusan sosial keagamaan dan sosial lainnya, Mawahib siap mendukung dan membantu menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) yang tertunda.
“Ketika dawuh kiai, maka santri tidak bisa lari, itu sudah tertanam dari dulu, Saya siap memperjuangkan dan mengabdi untuk Insyaallah kedepan Kudus lebih maju dan berkah,” paparnya.
Dihadapan Kiai dan para santri, Mawahib yang juga politikus anggota DPRD Jawa Tengah periode 2019-2024 menegaskan bahwa pihaknya sebagai penggagas perda (peraturan daerah) tunjangan guru lembaga pendidikan swasta non-formal atau Madrasah Diniyah (Madin).
“Terkait tunjangan guru ngaji, kita yang menggagas perda itu sesuai dengan yang kami cita-citakan bersama, sayangnya setelah adanya covid-19, tunjangan guru ngaji yang seharusnya Rp.1 juta melorot,” sebutnya.
Sebagaimana diketahui, pada masa TKGS, tunjangan yang didapat sejumlah Rp.1 juta perbulan honor yang terima oleh guru Madin.
Kini, Nominal honor yang diberikan pada HKGS mulai dari Rp.350 ribu, Rp.450 ribu, Rp.600 ribu, hingga Rp 1 juta. Hitungan tersebut dilihat dari masa kerja, jumlah jam mengajar, serta jumlah siswa di sekolahnya.
“Saat itu dipersulit pak carik Kabupaten, terus sekarang rebutan meraih suara padahal program itu yang saya gagas sejak lama dan direalisasikan oleh Bupati Tamzil-Hartopo, ini harus diperjuangkan kembali,” tegasnya.
Pihaknya mengaku terpukau dengan perjuangan Hartopo sebagai Bupati periode sebelumnya yang berhasil melawan Covid-19 dan pada akhirya mendapat penghargaan sebagai Bupati terbaik terkait penanganan corona.
“Saat itu ada dinamika pak Tamzil pergi dan pak Hartopo melanjutkan perjuangan sendirian, beliau ini luar biasa ketika sendirian menghadapi status zona hitam di Kudus, dengan perjuangannya pada saat itu ngapain aja dibatasi, tapi nyawa paling utama, beliau dengan segenap ketegasannya berusaha keras menghadapi corona,” tandasnya. (J01/A07)











