Gol A Gong Perkuat Literasi Guru di Kudus Lewat Pelatihan Menulis Fiksi Mini

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Duta Baca Indonesia Gol A Gong saat memberikan pelatihan penulisan fiksi mini kepada para guru di SMP Negeri 1 Jati Kudus, Rabu (19/8/2026). Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi guru dan mendorong pendidik menjadi teladan bagi siswa. (Foto; istimewa)

Duta Baca Indonesia Gol A Gong saat memberikan pelatihan penulisan fiksi mini kepada para guru di SMP Negeri 1 Jati Kudus, Rabu (19/8/2026). Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi guru dan mendorong pendidik menjadi teladan bagi siswa. (Foto; istimewa)

Jurnalpantura.id, Kudus –  Duta Baca Indonesia Gol A Gong memberikan pelatihan menulis fiksi mini kepada para guru di SMP Negeri 1 Jati Kudus, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi guru sekaligus mendorong pendidik menjadi teladan membaca dan menulis bagi siswa.

Pelatihan tersebut merupakan rangkaian Safari Literasi Jawa yang digelar di Kabupaten Kudus. Para peserta tidak hanya dikenalkan dengan teknik menulis fiksi mini, tetapi juga diajak memahami bahwa kemampuan menghasilkan tulisan perlu dibangun dari kebiasaan membaca.

Bunda Literasi Kudus Endhah Endayani Sam’ani Intakoris mengatakan, pelibatan guru dalam kegiatan literasi diharapkan mampu memperluas gerakan membaca dan menulis hingga ke kalangan peserta didik.

“Tujuannya adalah literasi di Kabupaten Kudus kita coba lagi untuk bisa ditingkatkan lagi secara lebih meluas,” kata Endhah.

Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam gerakan literasi karena berhadapan langsung dengan anak didik. Ketika kemampuan literasi guru semakin baik, kebiasaan tersebut diharapkan ikut tumbuh di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah Rahmah Nur Hayati menilai kemampuan menulis guru perlu berjalan beriringan dengan minat baca. Sebab, proses menghasilkan tulisan tidak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca.

“Ketika menulis pasti harus membaca dulu. Minat baca di guru harus menjadi teladan anak didiknya,” ujarnya.

Rahmah mengatakan guru sebaiknya tidak hanya meminta siswa rajin membaca, tetapi juga menunjukkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan pendidik dinilai dapat memberikan pengaruh lebih kuat terhadap pembentukan budaya literasi siswa.

“Jadi sebelum mengajak guru-guru juga harus mempunyai minat baca yang patut diteladani,” ungkapnya.

Ia berharap gerakan literasi di Kudus dapat dibangun melalui kolaborasi antara sekolah, taman bacaan, perpustakaan desa, dan berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, gerakan yang dilakukan secara bersama-sama akan membuat budaya literasi lebih mudah berkembang.

Rahmah juga mendorong agar perpustakaan di berbagai jenjang tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku. Perpustakaan perlu dikembangkan menjadi ruang yang mendukung proses belajar, pemberdayaan masyarakat, kreativitas, dan inovasi.

“Perpustakaan tidak hanya untuk pinjam buku. Menjadi pusat belajar, pusat pemberdayaan, kreativitas dan inovasi ada di sini,” jelasnya.

Selain menyediakan koleksi fisik, perpustakaan sekolah juga diharapkan dapat memberikan akses kepada masyarakat sekitar melalui layanan digital. Pemanfaatan koleksi secara langsung maupun daring dinilai penting untuk memperluas jangkauan sumber pengetahuan.

Karena itu, transformasi dan digitalisasi perpustakaan menjadi salah satu kebutuhan dalam pengembangan literasi. Masyarakat diharapkan semakin mudah memperoleh bahan bacaan tanpa terbatas pada koleksi yang tersedia secara fisik.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kudus Mutrikah mengatakan, pihaknya terus membuat kegiatan kreatif untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang yang lebih hidup. Menurutnya, kegiatan literasi perlu dikemas secara menarik agar mampu mengundang lebih banyak masyarakat.

“Kami sangat senang karena mendapat kesempatan mengundang beliau dan hadir bersama kita semuanya untuk memberikan semangat kepada masyarakat Kudus agar mempunyai budaya membaca atau budaya literasi,” katanya.

Mutrikah menyebut Dinarpus Kudus juga menggandeng berbagai pihak dalam menjalankan program literasi. Kolaborasi dilakukan bersama lembaga pendidikan, komunitas budaya dan pariwisata, penggiat literasi, penulis, perusahaan, hingga kelompok penyandang disabilitas.

Baca Juga :  Nawal Arafah Yasin Puji Fasilitas Ramah Anak di Perpusda Kudus

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat kegiatan perpustakaan semakin beragam. Masyarakat diharapkan tidak hanya datang untuk membaca atau meminjam buku, tetapi juga mengikuti kegiatan yang dapat menambah pengetahuan dan keterampilan.

“Ini memberikan satu warna tersendiri bagi masyarakat secara luas bahwa di perpustakaan sekarang ada kegiatan-kegiatan inovatif yang bisa menjadi magnet masyarakat untuk datang ke perpustakaan dan membaca buku,” ujarnya.

Mutrikah menilai kehadiran Gol A Gong dalam rangkaian kegiatan tersebut memberikan motivasi tambahan bagi peserta. Para guru memperoleh pengalaman dan teknik yang dapat digunakan untuk mengembangkan tulisan menjadi sebuah karya.

“Antusiasnya sangat luar biasa. Pak Gong memberikan trik-trik bagaimana membuat sebuah karya atau membuat tulisan,” ungkapnya.

Sementara itu, Duta Baca Indonesia Gol A Gong mengatakan Safari Literasi Jawa merupakan salah satu upayanya mendekatkan budaya membaca dan menulis kepada masyarakat di berbagai daerah. Program tersebut berlangsung mulai 7 Juli hingga 1 September 2026 dengan menyasar sekitar 29 kota.

Menurutnya, setiap daerah memiliki rangkaian agenda yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari diskusi, seminar literasi, pembacaan puisi, pelatihan, hingga bimbingan teknis. Di Kudus, salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan penulisan fiksi mini bagi para guru.

Gol A Gong menilai antusiasme masyarakat terhadap kegiatan literasi sebenarnya cukup besar. Karena itu, anggapan bahwa masyarakat Indonesia memiliki minat baca rendah menurutnya perlu dilihat dari persoalan yang lebih luas.

“Saya tahu sekali, saya saksi hidup bahwa masyarakat Indonesia itu minat bacanya tinggi. Hanya negara belum sanggup memenuhi hasrat itu,” katanya.

Menurutnya, persoalan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemauan membaca. Ketersediaan buku, pemerataan akses perpustakaan, serta sarana pendukung juga menjadi faktor yang menentukan masyarakat dalam mendapatkan bahan bacaan.

Ia menilai perpustakaan daerah memiliki peran penting dalam menyediakan akses terhadap buku dan sumber pengetahuan. Penguatan perpustakaan, menurutnya, perlu dilakukan bersamaan dengan gerakan membaca dan kegiatan yang mendorong masyarakat menghasilkan karya.

Gol A Gong juga melihat semakin banyak guru, siswa, penulis, dan komunitas yang mulai menerbitkan karya secara mandiri. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk memproduksi pengetahuan dan karya literasi sendiri.

“Saya datang ke satu kota di Kalimantan, meluncurkan 700 buku yang ditulis guru dan murid. Kalau dikasihkan ke penerbit besar, menunggu antre lama. Nah, itu sedang tumbuh,” ujarnya.

Ia berharap pelatihan menulis yang diberikan kepada guru dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya dari lingkungan sekolah. Guru diharapkan tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga mampu menjadi contoh bagi siswa dalam membaca, menulis, dan mengembangkan kreativitas.

Melalui pelatihan fiksi mini tersebut, gerakan literasi di Kudus diharapkan semakin berkembang dari lingkungan sekolah. Kebiasaan membaca yang dilanjutkan dengan kemampuan menulis dinilai dapat memperkuat ekosistem literasi sekaligus membuka ruang bagi guru dan siswa untuk menghasilkan karya. (J02/A01)

Berita Terkait

Safari Literasi Jawa di Kudus, Gol A Gong Dorong Masyarakat Tak Hanya Gemar Membaca tetapi Juga Berkarya
Siapkan Safari Literasi, Arpusda Bakal Datangkan Sastrawan Gol A Gong dalam Momentum HUT ke-81 RI
Kudus Miliki 18 Perpustakaan Desa Binaan Program TPBIS Perpusnas, Tiga Diantaranya Baru
Libur Sekolah Lebih Seru, Anak-anak Antusias Ikuti Kelas Menggambar di Perpusda Kudus
Kunjungan Perpusda Kudus Melonjak Saat Libur Sekolah, Capai Lebih dari 300 Orang
Nawal Arafah Yasin Puji Fasilitas Ramah Anak di Perpusda Kudus
TGM dan IPLM Jawa Tengah Menurun, Nawal Arafah Yasin Dorong Penguatan Gerakan Literasi
Arpusda Kudus Gandeng 50 Penulis Lokal, Garap Buku Budaya “Kota Kretek”
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:51 WIB

Gol A Gong Perkuat Literasi Guru di Kudus Lewat Pelatihan Menulis Fiksi Mini

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:19 WIB

Safari Literasi Jawa di Kudus, Gol A Gong Dorong Masyarakat Tak Hanya Gemar Membaca tetapi Juga Berkarya

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:10 WIB

Siapkan Safari Literasi, Arpusda Bakal Datangkan Sastrawan Gol A Gong dalam Momentum HUT ke-81 RI

Kamis, 9 Juli 2026 - 12:45 WIB

Kudus Miliki 18 Perpustakaan Desa Binaan Program TPBIS Perpusnas, Tiga Diantaranya Baru

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:36 WIB

Libur Sekolah Lebih Seru, Anak-anak Antusias Ikuti Kelas Menggambar di Perpusda Kudus

Berita Terbaru