Jurnalpantura.id, Kudus – Ribuan warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kembali menggelar tradisi Guyang Cekathak di Sendang Rejoso, Jumat, 4/9/2026 pagi.
Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat sekaligus ikhtiar memanjatkan doa agar hujan segera turun di tengah kemarau ekstrem.
Rangkaian ritual diawali dengan doa dan tahlil di Tajug Makam Sunan Muria sejak sekitar pukul 07.00 WIB.
Sebuah cekathak atau pelana kuda peninggalan Sunan Muria, Raden Umar Said, dibungkus kain mori putih dan diletakkan di hadapan tetua adat. Di sampingnya terdapat perlengkapan ritual berupa dupa dan kemenyan yang mengepul ketika doa dipanjatkan.
Setelah prosesi doa selesai, cekathak beserta sejumlah ubarampe diarak menuju Sendang Rejoso. Iring-iringan tersebut dikawal barisan warga dan lantunan selawat terbang papat.
Setibanya di lokasi, ribuan warga telah berkumpul dan duduk rapi untuk menyaksikan prosesi membasuh pelana kuda yang menjadi inti tradisi.
Kain mori yang membungkus cekathak kemudian dibuka. Bunga-bunga yang sebelumnya diletakkan di atas pelana ditaburkan ke sumber mata air.
Selanjutnya, pelana kuda peninggalan Sunan Muria dibasuh secara perlahan menggunakan air sendang.
Setelah prosesi selesai, cekathak ditempatkan di salah satu sudut sendang bersama berbagai ubarampe, seperti nasi berkat, cendol, dawet Muria, bubur ketan, dan sesaji puceng.
Suasana semakin meriah ketika warga melemparkan cendol yang terbuat dari tepung beras tanpa gula dan garam ke udara. Warga yang terkena cendol dan percikan air sendang sontak bersorak, seolah merasakan turunnya hujan.
Air dari Sendang Rejoso juga dipercikkan ke sekeliling lokasi sebagai simbol doa dan harapan agar hujan segera mengguyur wilayah Kudus.
Dewan Pembina Yayasan Masjid dan Makam Sunan Muria (YM2SM), Mastur, mengatakan Guyang Cekathak memiliki makna khusus bagi masyarakat Colo. Menurutnya, istilah guyang berarti membasuh, sedangkan cekathak merupakan sebutan untuk pelana kuda.
“Guyang itu memasuh, kalau cekathak artinya pelana kuda. Jadi sebenarnya ini tradisi membasuh pelana kuda Mbah Sunan,” ungkap Mastur.
Mastur menjelaskan, Sendang Rejoso dipilih sebagai lokasi ritual karena masyarakat setempat meyakini tempat tersebut pernah digunakan Sunan Muria untuk berwudu dan membersihkan diri.
Keberadaan sumber mata air yang tetap mengalir di tengah kondisi kemarau turut memperkuat nilai spiritual sendang bagi masyarakat.
“Ini sebagai pengingat masyarakat agar terus melestarikan perjuangan Sunan Muria, salah satunya dengan merawat tradisi,” katanya.
Menurut Mastur, pelemparan cendol ke udara menjadi simbol permohonan turunnya hujan. Cendol tawar juga diyakini memiliki fungsi simbolis untuk membantu membersihkan kawasan sendang.
“Pernah selepas tradisi guyang cekathak, hari itu langsung turun hujan. Ini menjadi simbol ngalap berkah juga,” ujarnya.
Ritual tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya masyarakat Colo agar tidak terputus oleh perkembangan zaman.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan kepungan atau makan bersama. Warga menggunakan daun jati sebagai alas makan yang terbentang di sepanjang jalan menuju lokasi utama Makam Sunan Muria.
Kebersamaan tersebut menjadi salah satu bagian yang dinilai memperkuat semangat gotong royong dan kerukunan warga dalam menjaga tradisi yang digelar setiap Jumat Wage pada September itu.
Salah seorang warga, Miatun (60), pedagang di Terminal Colo, mengaku selalu menyempatkan diri mengikuti Guyang Cekathak setiap tahun. Ia mengatakan wilayah Desa Colo telah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan.
“Sudah tiga bulan, karena ini tradisi jadi harus dilestarikan. Karena air sangat bermanfaat untuk kami, untuk memasak, menyiram tanaman dan bersih diri,” ujarnya.
Ia berharap tradisi tersebut terus dijaga dan doa warga dikabulkan dengan turunnya hujan yang membawa manfaat bagi masyarakat. (J05/A01)










