Jurnalpantura.id, Kudus – Sejumlah Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau lampu lalu lintas di Kabupaten Kundus dilaporkan kerap mengalami gangguan atau error.
Bahkan, di beberapa titik, lampu lalu lintas kembali mengalami kerusakan dalam waktu dekat meski baru saja dilakukan perbaikan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana serta Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus, Mukhlisin, menyebut faktor usia perangkat menjadi penyebab utama.
Sebagian besar APILL di Kudus diketahui telah beroperasi lebih dari sepuluh tahun sehingga rentan mengalami gangguan.
Dari total 140 lampu lalu lintas yang tersebar di 35 simpang wilayah Kudus, rata-rata APILL memang sudah berumur di atas satu dekade. Kondisi tersebut membuat kerusakan bangjo kerap terjadi, baik pada perangkat lampu, pengendali sistem, maupun komponen pendukung lainnya.
“Dari sisi usia sudah 10 tahun lebih, jadinya gangguan atau kerusakan yang terjadi memang karena faktor usia,” ujar Mukhlisin belum lama ini.
Selain faktor usia, keterbatasan unit cadangan juga menjadi kendala dalam penanganan gangguan di lapangan. Hingga saat ini, Dishub Kudus hanya memiliki tiga unit APILL sebagai cadangan ketika terjadi kerusakan.
“Tahun 2026 nanti akan kita perbanyak pergantian APILL. Saat ini kami baru memiliki tiga unit sebagai cadangan,” jelasnya.
Gangguan APILL juga dipicu oleh kerusakan jaringan bawah tanah, terutama yang terhubung dengan sistem Area Traffic Control System (ATCS). Kondisi ini menyebabkan lampu lalu lintas sering error dan sulit dikendalikan saat terjadi gangguan.
Mukhlisin menyebut, saat ini ada dua titik yang telah diperbarui dengan sistem modern, yakni di simpang Kantor DPRD Kudus dan Perempatan Pentol.
Sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan listrik, Dishub Kudus telah menyiapkan baterai server di Perempatan DPRD dan Pentol. Baterai tersebut mampu menopang operasional APILL hingga empat jam saat listrik dari PLN padam.
“Jadi kalau listrik padam, lampu lalu lintas di sana masih bisa menyala sampai empat jam sejak listrik mati,” ucapnya.
Ke depan, Dishub berencana mengembangkan sistem hybrid antara listrik PLN dan baterai server agar APILL tetap berfungsi dan dapat dikendalikan meski terjadi pemadaman atau gangguan jaringan.
Selain itu, pada tahun 2026 telah dialokasikan anggaran sekitar Rp 1,3 miliar dari APBD untuk pembaruan APILL di Perempatan Jember.
“Seluruh simpang sudah bisa dimonitor di Dishub, jadi kalau ada gangguan, secepat mungkin akan kami tangani,” tukas Mukhlisin. (J05/A01)










