Jurnalpantura.id, Kudus – Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) Kudus menggelar aksi seni bertajuk Bisik Bumi di Atas Trotoar di Jalan Pramuka, Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, Minggu, 28/6/2026 sore.
Kegiatan ini menghadirkan live painting, pembacaan puisi, dan musikalisasi puisi sebagai bentuk ekspresi sekaligus kritik terhadap berkurangnya fungsi trotoar akibat maraknya coffee street dan aktivitas perdagangan.
Sejak pukul 16.30 WIB, tiga seniman mulai menuangkan gagasan mereka di atas kanvas yang dipajang di trotoar. Proses melukis berlangsung di hadapan masyarakat dan pengguna jalan yang sesekali berhenti untuk menyaksikan karya seni yang lahir di ruang publik tersebut.
Di sela-sela live painting, para peserta secara bergantian membacakan puisi yang mengangkat beragam keresahan.
Mulai dari refleksi pribadi, kritik sosial, hingga ajakan untuk kembali menghargai lingkungan, seluruh karya sastra itu disampaikan di atas trotoar sebagai simbol ruang publik yang semestinya dapat dinikmati bersama.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Lesbumi Kudus bersama Teater Gerak 11, pelajar, mahasiswa, pegiat teater, serta komunitas seni di Kudus.
Setelah sesi melukis selama sekitar satu jam, acara dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang didominasi penampilan para pegiat sastra muda.
Ketua Lesbumi Kudus, Abud SB Runcing, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni.
Menurutnya, seni dipilih sebagai media untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga hubungan manusia dengan alam sekaligus mengingatkan fungsi ruang publik.
“Di sini kami mengambil tema Bisik Bumi di Atas Trotoar, bagaimana manusia menjaga hubungan baik dengan alam, bumi, dan disuarakan lewat puisi serta lukisan,” ujar Abud.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan hutan, pepohonan, maupun sumber air, tetapi juga menyangkut ruang-ruang publik di kawasan perkotaan.
Karena itu, Lesbumi mendorong agar trotoar kembali dimanfaatkan sebagaimana mestinya, yakni sebagai fasilitas bagi pejalan kaki, bukan didominasi aktivitas lain.
Abud juga menyoroti fenomena menjamurnya coffee street di sejumlah ruas jalan utama Kota Kudus. Menurutnya, kondisi tersebut membuat fungsi trotoar dan ruang publik semakin bergeser sehingga perlu menjadi perhatian bersama.
“Di sepanjang jalan utama di wilayah kota masih tren street coffee, kemudian alun-alun juga lebih banyak untuk berdagang daripada ruang temu untuk warga Kudus,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, tiga karya lukisan dengan karakter berbeda turut dipamerkan. Karya Mondy menampilkan lukisan abstrak yang menggambarkan bisikan bumi yang terabaikan, sementara Khoirul Anam melukiskan figur manusia bersila dengan simbol segitiga sebagai representasi hubungan manusia, alam, dan Tuhan.
Adapun Randy Gita menghadirkan visual Tugu Lingga Yoni Gang yang dimaknai sebagai simbol keyakinan masyarakat terhadap konsep Manunggaling Kawula Gusti. Melalui karya seni dan puisi itu, para peserta berharap masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan.
“Di balik hiruk pikuk kota, alam selalu memberi pesan. Ada bumi yang tak pernah berteriak meskipun terluka, mari berhenti sejenak, mendengar dan mulai peduli terhadap alam yang perlu dirawat,” tambahnya. (J05/A01)










