Kadispertanpangan Kawal Pembukaan Pintu Air Bendung Klambu

Pertanian201 Dilihat

Jurnalpantura.id, Purwodadi – Guna memastikan pembukaan pintu air dari Waduk Kedungombo melalui Bendungan Klambu menuju ke wilayah Undaan Kabupaten Kudus, Catur Sulistiyanto S.Sos MM selaku Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus datang ka kantor pintu Bendung Klambu Grobogan, Selasa 26/09/2018 pagi tadi.

Kedatangan Kadispertanpangan ini disertai Hawi Sukamto, Ketua Paguyuban Gapoktan kecamatan Undaan dan M. Hasan Abdillah, Koordinator BPP Kecamatan Undaan.
Rombongan berangkat dari Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kudus usai salat subuh, sehingga tiba di pintu air bendung klambu sebelum dibuka yakni pukul 05.30.

Catur Sulistiyanto bersama Hawi Sukamto dan Hasan Abdillah dipandu Tarto (operator pintu air bendung Klambu) menyaksikan proses pembukaan pintu air dari kantor pusat pengaturan air bendung Klambu (Foto : istimewa)

“Alhamdulillah kita bisa mengawal langsung untuk memastikan pembukaan pintu air Bendung Klambu yang menuju ke wilayah Undaan Kabupaten Kudus. Ini sebagai upaya kita dalam melayani petani sehingga bisa segera melakukan tanam MT I,” ujar Catur Sulistiyanto disela-sela melihat ruangan pusat pengoperasian pintu Bendung Klambu.

Dalam ruangan tersebut terdapat kamera pemantau (CCTV) yang menunjukkan aktifitas aliran air di tiga pintu yakni arah Kabupaten Pati, Kudus (Undaan) dan Demak.
Dijelaskan, sesuai jadwal yang ditentukan pada pembukaan pintu air bendung klambu menuju Undaan Kudus adalah hari selasa, tanggal 25 September 2018 pukul 05.30. Air ini akan mengaliri areal persawahan seluas 5600 hektar di Kecamatan Undaan.

“Menurut keterangan penjaga pusat pengaturan pintu bendung Klambu tadi, air akan sampai di pintu air Kalirejo (Babalan ) menjelang malam. Kemudian akan dibagi dua, arah timur ke daerah Desa Kutuk sedangkan arah Utara menuju ke kawasan Desa Undaan Lor,” terangnya.

Hawi Sukamto, Koordinator Paguyuban Gapoktan Kecamatan Undaan, mewakili para petani di wilayah Undaan menyampaikan rasa terimakasihnya pada Pemkab Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan yang dikomandani Catur Sulistiyanto. Sebab dengan datang langsung ke gedung pusat pengaturan air bendung Klambu tersebut membuat petani yang akan menanam MT I lebih tenang.

Pembukaan pintu air saat pagi hari sehingga diperkirakan sampai di kecamatan Undaan malam hari. Maka pada Hari Rabu (26/09) petani sudah menikmati aliran air untuk MT I (Foto : istimewa)

“Tadi kita saksikan sendiri pintu air dibuka. Bukan karena kita menerima laporan bahwa pintu sudah dibuka. Kita senang dengan pendampingan dan pengawalan pak Catur (Kadispertanpangan) bersama pak Hasan ( Koordinator BPP Kecamatan Undaan) yang sudah berangkat subuh dari Kudus untuk memastikan pembukaan pintu air ke arah Undaan. Kita sebagai petani jadi terasa kalau punya Bapak yang melindungi kaum tani. Sekarang mayoritas lahan tanam sudah dilakukan pengolahan yaitu dibajak. Jadi begitu ada air irigasi, mereka bisa langsung melakukan aktifitas tanam,” ujar Hawi Sukamto.

Penggerak pertanian organik ini berharap pada pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi sungai Juwana dan Jeratun Seluna. Sehingga kondisi sungai menjadi dalam dan bisa menyimpan air guna persediaan irigasi ketika musim kemarau.

“Kabupaten Demak setiap tahun ada normalisasi sungai, kita harapkan di wilayah Kudus juga begitu. Sebab bisa mengurangi banjir dan ketika kemarau bisa menyimpan air untuk dipompa ke sawah,” harapnya.

Hasan Abdillah, Koordinator BPP kecamatan Undaan, menambahkan bahwa air irigasi dari waduk Kedungombo yang menuju ke wilayah Undaan hanya dialokasikan selama dua bulan. Sebab berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG Semarang bahwa musim hujan diperkirakan akan turun akhir november 2018.

“Sekarang kan dibuka 25/09, nanti rencananya 25/11 ditutup kembali karena diperkirakan air untuk daerah Undaan sudah tercukupi dari air hujan. Sebab waduk Kedungombo itu akan diutamakan sebagai sumber bahanbaku air minum wilayah Kota Semarang. Petani kita memang biasanya agak kesulitan air ya sampai akhir November. Setelah itu kan turun hujan yang langsung ke sawah dan tersimpan di embung-embung,” tuturnya.

“Beberapa daerah seperti Desa Kutuk yang dekat dengan saluran sungai Juwana malah sudah memulai tanam karena masih ada sisa air yang dipompa untuk irigasi. Namun petani yang posisinya jauh dari sungai Juwana menunggu aliran dari Kedungombo,” tandasnya. (J02/A01)

Komentar