Jurnalpantura.id, Kudus – Jembatan Apung Setro Waru yang menghubungan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak telah diresmikan kemarin, Senin (12/12/2022).
Jembatan ini akan menjadi penghubung dari Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu Kudus dan Desa Kedungwaru Lor Kecamatan Karanganyar Demak.
Jembatan Setro Waru sendiri mulanya adalah Jembatan Sasak Kali Wulan yang terbuat dari bambu dan kayi sepanjang 40 meter. Jembatan ini hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan sepeda motor.
Jembatan itu dikabarkan sering hanyut ketika Kali Wulan banjir. Bahkan, pada Agustus 2022 lalu sudah tercatat empat kali terjadi hanyut lantaran banjir.
Kendati demikian, Jembatan Sasak Kali Wulan menjadi jalur alternatif yang banyak dipilih oleh masyarakat agar bisa menyeberang ke Kudus atau sebaliknya dengan cepat. Jembatan ini bisa memangkas jalur tempuh hingga 15 kilometer dibanding jalur memutar.
Saat ini, jembatan itu sudah dibangun oleh investor dari Kabupaten Brebes dan menjadi jembatan apung yang apik dan layak. Jembatan juga dilengkapi dengan lampu penerangan dan cat warna-warni di pagarnya.
Diketahui, pembangunan Jembatan Setro Waru memakan biaya hingga Rp 500 juta. Pada bagian bawah kontruksi ditopang dengan drum dengan fungsi agar jembatan itu terus mengapung. Sementara, panjang jembatan ditaksir sekitar 70 meter dengan lebar 2,5 meter.

Kepala Desa Setrokalangan, Didik Handono berterimakasih dengan dibangunnya jembatan apung tersebut. Katanya, masyarakat sangat menyambut hangat adanya jembatan Setro Waru ini.
“Kami bersyukur, berterimakasih dengan masuknya investor yang sangat membantu akses mobilisasi warga menjadi lebih cepat,” jelasnya.
Didik menuturkan, tiap sore hati banyak warha yang memenuhi lokasi jembatan untuk melihat keindahan Jembatan Apung Setro Waru dan Kali Wulan pembatas dua Kabupaten.
Dirinya juga mengatakan bahwa nantinya keberadaan Jembatan Setro Waru akan berdampak kepada pemutaran roda ekonomi antara Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak.
Sementara itu, Wakil dari CV Bumi Ayu Brebes, Yahya Maulana yang juga selaku investor jembatan tersebut menyampaikan, nantinya warga yang akan melintas di Jembatan Apung akan dikenakan tarif Rp 2000.
“Untuk anak sekolah yang mengenakan seragam ketika melewati jembatan tersebut tidak dipungut biaya,” katanya.
Yahya menegaskan bahwa jembatan tersebut aman untuk dilewati. Perawatan pun akan dilakukan selama satu bulan hingga tiga bulan sekali.
“Kemarin waktu debit air dari sungai naik saya lihat tidak ada masalah, jembatan masih bisa dilalui,” tandasnya. (J05/A01)










