Jurnalpantura.id, Kudus – Puisi-puisi berterbangan di sepanjang dialog aktor pada pementasan lakon “Bangun Pagi Bahagia” yang dibawakan Teater Qi di Gedung Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) , Selasa, 29/9/2026.
Pertunjukan sesungguhnya malam itu baru dimulai ketika seorang perempuan keluar dari belakang panggung. Membawa obor, ia menarasikan puisi seolah mengajak penonton masuk ke dalam pusaran pemerintahan orde baru yang dipimpin Soeharto.
Malam itu, tiga aktor yang memerankan tokoh Frank, Bass dan Bob datang dari latar belakang yang berbeda. Masing-masing membawa persoalan yang dimunculkan dalam dialog-dialog putis mereka.
Tokoh Bass diceritakan sebagai anak yang bersahabat dengan patung, lalu diusir ibunya sendiri lantaran kemiskinan. Frank ditokohkan sebagai anak haram yang muak pada ayahnya karena tak mengakui sebagai putra sendiri. Sedang Bob dikisahkan anak yang ditinggal mati neneknya dan memutuskan bercita-cita untuk mati muda.
Di tengah himpitan realitas itulah, jalanan mempertemukan mereka bertiga dan menjadi sahabat dalam berbagai keadaan.
Sepanjang pertunjukkan karya Andi SW ini, penonton akan lebih banyak disuguhkan fragmen-fragmen kecil yang mengisi ruang pementasan. Dialog yang puitis, komedi dagelan yang diperankan ketiganya, hingga gerak tubuh, nyanyian sampai dialek daerah yang mengajak penonton untuk menginterpretasikan jalinan ceritanya sendiri.
Para tokoh tertawa, menangis dan meratapi kesedihan, kenyataan secara silih berganti terhadap ketimpangan dan kelas sosial yang berbeda di tengah wacana besar para penguasa.
Begitu jenakanya para aktor memainkan perannya. Hanya di pentas itu, aktor seolah memainkan dialog seenaknya, terutama pada dialog ngapak yang tak semua dipahami penonton. Seakan pentas tersebut lahir dari Tegal sendiri.
Pertunjukan tersebut juga lebih banyak berpusat di sudut kanan panggung, di mana kursi sofa berada di tengahnya dan dihiasi artistik lukisan, coretan dan akar-akar yang menandakan latar era lama.
Sesekali perempuan dengan dress panjang yang dominan merah muda muncul, melontarkan puisi-puisi di sela peristiwa tiga sahabat, yang menjadi pemeran utama pertunjukkan.
Hingga akhirnya, kesadaran realita menyadarkan mereka untuk mengambil jalan tengah dan menghadapi perubahan-perubahan yang semakin dinamis. Bob misalnya, memilih untuk giat bekerja dan menjadi peternak kambing membangun rumah tangga dengan kekasihnya. Atau Frank memilih menjadi Frank beternak bebek sekaligus menjalankan usaha odong-odong. Sedangkan Bas memilih jalan yang lebih sederhana, yaitu bangun pagi bahgia sembari menantikan sosok imaji dari planet Jupiter yang diidamkan sebagai kekasihnya.
Pilihan tersebut menjadi bagian dari gambaran perubahan hidup yang kerap disimbolkan dalam puisi para aktor. Bahwa kesenian tak lagi mempesona dan tugas pemimpin adalah membuat rakyat dapat bangun pagi bahagia sebagai sentilan terhadap penguasa.
Sutradara pentas Rias Viri menyebut, lakon “Bangun Pagi Bahagia” di Kudus menjadi salah satu lokasi tur pementasan di empat kota yang dibawakan Teater Qi asal Tegal.
Sebelumnya, Teater Qi telah menyambangi Taman Budaya Tegal pada 26 September, melanjutkan tur pentas ke Rumah Seni Banjarsari Solo pada 2 Oktober, dan Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta pada 3 Oktober.
Rias menyebut, pentas malam itu tak hanya menceritakan tentang perjalanan tiga remaja dengan persoalan dan latar belakang yang berbeda. Ada pertemuan, persahabatan, keluarga, kehilangan, cinta, kemiskinan, pekerjaan, harapan, juga berbagai cara manusia bertahan hidup ketika zaman terus berubah. Naskah ini dipilih karena persoalannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Pada akhirnya, perjalanan tidak selalu membawa setiap orang menuju tempat yang sama,” ujar Rias usai pentas.
Menariknya, cerita yang dihadirkan dalam pertunjukan tersebut dikemas seolah-olah lahir dari kehidupan masyarakat Tegal sendiri. Situasi, lokasi, kebiasaan, dialek, hingga beberapa peristiwa diadaptasi ke konteks sosial dan budaya Tegal. Dengan bahasa tubuh yang disesuaikan kebutuhan cerita, suara aktor yang tidak diproyeksikan berlebihan serta lebih mengutamakan ritme percakapan.
Baginya, adaptasi tersebut justru membangun kedekatan yang lebih intim, personal dan sederhana kepada penonton. “Ada cerita tentang persahabatan, refleksi mengenai waktu, pilihan hidup, penantian, serta kemampuan manusia menerima kenyataan,” bebernya.
Lewat pementasan tersebut, Teater Qi seakan mengajak penonton untuk kembali bertanya pada diri sendiri dan melihat dengan cara sederhana. Setelah perjalanan panjang dan berbagai persoalan kehidupan, apa sebenarnya yang membuat kita merasa bahagia ketika bangun pagi dan menjalani hari esok dengan penuh ceria.
Dari lima fragmen dalam naskah asli Andy SW, Teater Qi mengolah empat fragmen utama: Fragmen Masa Remaja (Keluarga dan Kehilangan), Fragmen Kota (Bekerja untuk Hidup), Fragmen Kisah Cinta, dan Fragmen untuk Masa Depan. Fragmen terakhir menjadi ruang untuk melihat kembali seluruh perjalanan.
Karena barangkali, kata dia, bangun pagi dan bahagia bukanlah tentang menemukan akhir yang paripurna, tetapi juga tentang pilihan untuk kembali menjalani hari esok dengan keberanian. (J05/A01)










