Jurnalpantura.id, Kudus – Jumlah Lelaki Seks Lelaki (LSL) mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari SSR HIV FATAYAT NU Jawa Tengah, populasi LSL kini telah menembus lebih dari 1.000 orang, mencakup mereka yang sudah maupun belum terinfeksi HIV.
“Setiap tahun, jumlah LSL di Kudus meningkat sekitar 10 persen. Mereka tidak hanya berasal dari Kudus, tapi juga banyak yang merupakan pendatang,” ujar Adiningtyas Prima Yulianti, Koordinator SSR HIV FATAYAT NU Jateng, saat pelatihan pencegahan HIV dengan PrEP yang digelar di Kudus, beberaa waktu lalu.
Dalam upaya menanggulangi penyebaran HIV, FATAYAT NU mendorong tenaga kesehatan untuk menggunakan pendekatan yang lebih lembut. Edukasi yang tidak menghakimi dinilai efektif dalam membangun kepercayaan komunitas LSL agar mau mengakses layanan kesehatan secara rutin.
“Penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi dengan cara halus, agar tidak membuat LSL merasa terintimidasi atau menjauh dari layanan,” jelas Adiningtyas.
Ia menekankan bahwa penggunaan kondom masih menjadi alat utama dalam pencegahan HIV, sementara Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) lebih bersifat sebagai pelengkap.
Menurutnya, PrEP belum bisa dijadikan garda depan pencegahan karena belum menjangkau semua kelompok usia serta masih memerlukan edukasi yang lebih mendalam.
“PrEP penting, tapi tetap pilihan tambahan. Pencegahan utama tetap dengan kondom,” tegasnya.
Fakta yang cukup mengejutkan, lanjut Adiningtyas, adalah ditemukannya banyak kasus HIV pada usia 20 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko sudah mulai terjadi sejak usia belasan, sehingga edukasi perlu dilakukan sejak dini dan juga melibatkan peran orang tua.
Dalam pengamatan FATAYAT NU, tingkat kedisiplinan penggunaan kondom ternyata lebih tinggi di kalangan waria dibandingkan LSL. Oleh karena itu, kampanye penggunaan PrEP di Kudus terus digencarkan dengan narasi yang tepat agar tidak menimbulkan salah kaprah.
“Kami tekankan bahwa PrEP bukan jalan utama. Ini untuk mencegah anggapan bahwa HIV bisa diremehkan hanya karena ada PrEP,” pungkas Adiningtyas. (J05/A01)










