Jurnalpantura.id, Kudus – Perilaku menyimpang dari kelompok lelaki seks lelaki (LSL) menjadi penyumbang terbesar kasus Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Kudus selama delapan bulan terakhir.
Dari total 115 kasus yang tercatat sejak Januari hingga Agustus 2025, sebanyak 32 kasus di antaranya berasal dari kelompok LSL.
Manager Penanggulangan HIV/AIDS Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kudus, Eni Mardiyanti, menyampaikan bahwa kasus ODHIV di Kudus masih didominasi oleh kalangan usia produktif, yaitu 19-59 tahun.
Selain kelompok LSL, terdapat juga 31 kasus dari pelanggan pekerja seks, 23 kasus dari populasi umum, dan sisanya tersebar pada berbagai kelompok lainnya.
“Data jumlah temuan kasus ODHIV tersebut bersumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus,” ujar Eni pada Rabu, 17/9/2025.
Ia menjelaskan bahwa pasien ODHIV lainnya juga berasal dari pasien tuberkulosis ada 13 kasus, pasangan ODHIV ada 8 kasus, calon pengantin ada 6 kasus, wanita pekerja seks ada 1 kasus, dan ibu hamil ada 1 kasus.
Dilihat dari rentang usia, kasus ODHIV di Kudus paling banyak terjadi pada usia 19-59 tahun dengan total 104 kasus. Sementara itu, kasus pada usia 14-18 tahun tercatat empat kasus dan usia di atas 60 tahun sebanyak tujuh kasus.
Penyebaran kasus per bulannya pun cukup konsisten, dengan puncak tertinggi tercatat pada bulan April dan Juli, masing-masing dengan 18 kasus.
Eni menyoroti pentingnya kewaspadaan terhadap kelompok usia muda yang sudah mulai terpapar HIV. Ia menyebut bahwa satu kasus pada remaja ditemukan pada bulan Februari, satu kasus pada Mei, dan dua kasus lainnya pada bulan Juni.
“Ini menurutnya mengindikasikan bahwa edukasi dini perlu diperkuat, khususnya di kalangan remaja,” tandasnya.
Melihat tingginya jumlah kasus, terutama dari kelompok LSL, Eni menekankan pentingnya edukasi dan kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan HIV secara dini.
Ia menyebut, langkah ini krusial untuk menekan angka penularan dan memastikan penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.
“Pemeriksaan dan pengobatan sejak dini sangat penting agar HIV tidak berkembang menjadi AIDS dan bisa ditangani dengan baik,” tutupnya. (J05/A01)










