Jurnalpantura.id, Kudus – Kasus kelainan jantung pada anak di Kabupaten Kudus dan wilayah sekitarnya terungkap cukup tinggi. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah pasien anak yang datang untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan di fasilitas kesehatan dalam beberapa bulan terakhir.
Fakta itu mencuat saat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama tim dokter spesialis jantung anak mengadakan kegiatan skrining dan pemeriksaan jantung di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, Sabtu, 23/5/2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun IDAI. Pemeriksaan dipimpin langsung oleh dokter spesialis anak konsultan kardiologi, dr. Agus Priyatno, Sp.A Subsp.Kardio(K).
Dalam pelaksanaannya, tim medis memanfaatkan enam unit alat ekokardiografi atau USG jantung untuk mendeteksi kemungkinan kelainan jantung pada anak sejak usia dini.
dr. Agus menjelaskan, selama tiga bulan terakhir jumlah pasien anak dengan gangguan jantung terus mengalami peningkatan. Bahkan sebagian besar pasien dari Kudus sebelumnya harus menjalani rujukan ke rumah sakit di Semarang untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
“Hingga saat ini tercatat sekitar 99 pasien anak datang berobat ke rumah sakit dalam kurun tiga bulan terakhir,” ujarnya.
Ia menilai kebutuhan layanan dokter spesialis jantung anak di Kudus sudah mendesak agar masyarakat tidak selalu bergantung pada layanan di luar daerah.
Tingginya angka kasus tersebut menjadi alasan IDAI bersama tim kardiologi anak menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Kudus.
Setelah kegiatan di Kudus selesai, agenda serupa juga akan dilaksanakan di Kabupaten Rembang dengan sasaran pemeriksaan ratusan anak.
Dalam pelaksanaan skrining di Kudus, sekitar 120 anak mengikuti pemeriksaan jantung. Sementara itu di Rembang, lebih dari 100 anak dijadwalkan menjalani pemeriksaan serupa sebagai upaya memperluas deteksi dini penyakit jantung bawaan pada anak.
Sementara iyu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam menegaskan bahwa deteksi dini sangat penting agar anak yang memiliki kelainan jantung dapat segera memperoleh penanganan sebelum kondisi menjadi lebih berat.
Ia berharap dokter puskesmas dan tenaga kesehatan umum mampu mengenali tanda-tanda awal penyakit jantung pada anak, seperti bayi tampak kebiruan, berat badan sulit naik, hingga denyut jantung tidak normal.
“Kami tengah memperkuat layanan jantung anak di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, termasuk mendukung rencana pembangunan rumah sakit khusus jantung agar pelayanan kesehatan masyarakat menjadi lebih mudah dan terjangkau,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan layanan jantung anak di Kudus akan sangat membantu masyarakat, terutama dari sisi biaya transportasi dan efesiensi pelayanan kesehatan.
“Kita tahu ongkos transportasi dari Kudus atau Rembang ke Semarang bisa lebih dari Rp 500 ribu pulang pergi. Maka ini sangat membantu masyarrakat,” ucapnya.
Ia menambahkan, Pemkab Kudus juga mendukung rencana investasi pembangunan rumah sakit khusus jantung di Kudus untuk memperkuat pelayanan kesehatan jantung anak maupun dewasa.
“Pak Bupati memerintahkan agar proses perizinan maupun pengadaan rumah sakit jantung bisa didukung penuh oleh Dinas Kesehatan,” pungkasnya. (J05/A01)










