Jurnalpantura.id, Kudus – Berkat inovasi menghadirkan aplikasi SI GANDRUNG (Singkatan dari Konsultasi Moderasi Beragama dan Resensi Buku Pejuang Agama), Penyuluh Agama Islam (PAI) asal Kabupaten Kudus, Mc. Mifrohul Hana berhasil menembus 10 besar nominasi terbaik PAI Award Nasional 2025 dalam kategori Penguatan Moderasi Beragama.
Aplikasi SI GANDRUNG merupakan sebuah terobosan digital yang memberikan ruang edukatif bagi masyarakat untuk berdialog lintas iman, memperkuat nilai toleransi, serta membumikan literasi kebangsaan yang inklusif.
Inovasi ini membuktikan bahwa dakwah kini tidak hanya terbatas di atas mimbar, namun dapat menjangkau ruang-ruang virtual yang lebih luas dan kontekstual.
“Ini bukan hanya tentang aplikasi, tapi gerakan sunyi yang mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan merawat keberagaman,” ujar Mifrohul Hana.
Keberhasilan SI GANDRUNG juga turut mengantar Kabupaten Kudus ditetapkan sebagai Lokasi Prototipe Moderasi Beragama Provinsi Jawa Tengah melalui SK Dirjen Bimas Islam Nomor 1033 Tahun 2024.
Tak hanya berhenti di ranah digital, Mifrohul turut menggagas pembangunan Ikon Kampung Moderasi Beragama di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, sebagai bentuk moderasi yang nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Nama Mifrohul Hana kini bersanding dengan delapan penyuluh inspiratif lainnya dari Jawa Tengah yang juga masuk 10 besar PAI Award Nasional 2025.
Mereka adalah Rosyid Muhammadi (Wonosobo), Kambali (Karanganyar), Tasripan (Grobogan), Faidus Sa’ad (Banyumas), Mustaqim (Salatiga), Miftachul Azizi (Temanggung), Muh. Ngirhashon (Klaten), dan Herawati Suyatno P (Karanganyar).
Deretan nama tersebut menunjukkan bahwa Jawa Tengah merupakan lumbung penyuluh agama yang berintegritas, kreatif, dan berdampak bagi masyarakat.
Ajang penghargaan PAI Award Nasional akan mencapai puncaknya pada Agustus 2025. Harapan dan doa terus mengalir agar Mifrohul Hana mampu meraih Juara I dan membawa harum nama Kudus di kancah nasional.
Namun lebih dari sekadar gelar, langkah ini telah membuktikan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari desa, dari penyuluh, dan dari keberanian untuk berinovasi.
Dari Kudus, cahaya moderasi menyala, dan dari tangan Mifrohul Hana, benih toleransi dan cinta Tanah Air ditanamkan di tengah keberagaman Indonesia. (J02/A01)










