Jurnalpantura.id, Kudus – Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Kudus menempatkan percepatan penurunan angka stunting sebagai salah satu program prioritas dalam program kerja organisasi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penguatan pendampingan bagi ibu hamil dan balita secara berkelanjutan.
Pendampingan dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan, puskesmas, Tim Penggerak PKK, hingga pemerintah desa dan kecamatan.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat langkah pencegahan stunting di Kabupaten Kudus.
Ketua IBI Kabupaten Kudus, Darini, mengatakan bahwa pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan.
Menurutnya, bidan memiliki peran strategis dalam memastikan kondisi kesehatan ibu tetap optimal sehingga bayi dapat lahir sehat dan memiliki tumbuh kembang yang baik.
“Ibu hamil kita kawal agar tidak terjadi stunting. Pencegahan dilakukan sejak terjadinya konsepsi hingga anak berusia dua tahun atau pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” ujarnya, Rabu, 22/7/2026.
Ia menjelaskan, kesehatan ibu selama kehamilan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi risiko stunting pada anak.
Oleh sebab itu, pemeriksaan kehamilan dilakukan secara rutin untuk mendeteksi berbagai faktor risiko sedini mungkin sehingga penanganan dapat segera diberikan.
Darini menyebutkan, salah satu indikator yang diperhatikan adalah ukuran lingkar lengan atas ibu hamil. Apabila ukurannya kurang dari 23,5 sentimeter, ibu memiliki risiko lebih tinggi mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang dapat berdampak pada kondisi janin.
Selain itu, anemia pada ibu hamil juga menjadi perhatian karena berkontribusi terhadap risiko terjadinya stunting.
Tidak hanya itu, kenaikan berat badan selama kehamilan turut dipantau. Menurutnya, ibu hamil idealnya mengalami peningkatan berat badan sekitar 12 kilogram.
Jika kenaikan berat badan tidak mencapai angka tersebut, diperlukan pendampingan dan pemantauan lebih intensif agar kondisi ibu maupun janin tetap terjaga.
Pendampingan juga berlanjut setelah bayi lahir. IBI bersama tenaga kesehatan terus memonitor pertumbuhan dan perkembangan balita melalui layanan Posyandu.
Pemeriksaan dilakukan secara berkala dengan mengukur berat badan, tinggi badan, serta mencocokkannya dengan grafik pertumbuhan sesuai usia anak.
“Anak dinyatakan lepas dari stunting ketika grafik pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan usianya. Itu bisa dipantau melalui Posyandu dengan melihat berat badan dan indikator pertumbuhan lainnya. Cara ini menjadi langkah paling efektif untuk mengetahui apakah anak mengalami stunting atau tidak,” pungkasnya.
Melalui pendampingan sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia dua tahun, IBI Kabupaten Kudus optimistis target zero stunting dapat diwujudkan melalui edukasi keluarga, pemantauan kesehatan ibu, dan pengawasan tumbuh kembang balita secara berkesinambungan. (J05/A01)










