Gelar Audit Maternal Perinatal, Upaya DKK Kudus Tekan Kasus Kematian Ibu dan Bayi Terulang

- Jurnalis

Rabu, 24 Juli 2024 - 15:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan tim pengkaji audit maternal perinatal (AMP), Rabu, 24/07/2024. (Foto:J05)

Pertemuan tim pengkaji audit maternal perinatal (AMP), Rabu, 24/07/2024. (Foto:J05)

Jurnalpantura.id, Kudus – Guna mencegah terjadinya kasus kematian ibu dan bayi terulang kembali, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengadakan pertemuan tim pengkaji audit maternal perinatal (AMP), Rabu, 24/07/2024.

Kegiatan tersebut diikuti oleh tenaga medis dari rumah sakit, serta tenaga medis di sejumlah puskesmas yang sempat mendapati kasus kematian ibu dan bayi. Hadir sebagai narasumber, Gatot Irawan dari RSUP dr. Karyadi dan Hari Purwanto dari Kudus.

Kabid Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto menyebut, kasus kematian bayi atau balita yang terjadi sepanjang Januari hingga Juli 2024, tercatat ada 34 kasus kematian bayi. Sedangkan untuk kasus kematian ibu ada sebanyak 2 kasus.

“Untuk kasus neonatal (kematian bayi yang lahir hidup, tanpa memandang usia kehamilan saat lahir, dalam 28 hari pertama kehidupan) ada 25 kasus kematian,” tambahnya.

Menurutnya, kasus kematian bayi yang terjadi di Kabupaten Kudus, rata-rata disebabkan oleh kelahiran dini atau prematur, berat badan lahir rendah (BBLR). Sedangkan kasus kematian ibu, rata-rata terjadi karena eklamsi dan penyakit bawaan yang tidak terdeteksi sejak dini.

Baca Juga :  Cegah Kanker Serviks, Anggota Persit Tes IVA

“Jadi upaya kami memang menekankan kepada seluruh faskes tingkat pertama untuk sedini mungkin mendeteksi gejala calon ibu maupun bayi. Apabila nanti ditemukan risiko tinggi, langsung dikonsultasikan ke rumah sakit untuk mendapat rujukan dan tindak lanjut dari dokter spesialis,” tukasnya.

Lebih lanjut, Nuryanto menyampaikan bahwa kegiatan AMP ini juga dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang diperingati tiap tanggal 23 Juli. Di samping itu, untuk menekan kasus kematian ibu dan bayi di Kudus terulang kembali.

“Jadi kita bedah dari proses kronologisnya, dari awal proses di puskesmas seperti apa, terus dirujuk ke rumah sakit seperti apa, kita lakukan audit agar supaya bisa mengevaluasi dan memperbaiki sistem manajemen penanganan merinatal atau pun bayi yang sudah lahir,” katanya. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 79 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru