Gandeng RS Mardi Rahayu, Rotary Gelar Pelatihan Skrining Mata bagi 50 Guru SD di Kudus

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rotary Club Kudus dan Rotary Club Kudus Srikandi bersama Rotary Club Semarang Kunthi serta RS Mardi Rahayu Kudus memberikan Pelatihan Dasar Skrining Kesehatan Mata bagi Guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kudus. (Foto: JP)

Rotary Club Kudus dan Rotary Club Kudus Srikandi bersama Rotary Club Semarang Kunthi serta RS Mardi Rahayu Kudus memberikan Pelatihan Dasar Skrining Kesehatan Mata bagi Guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kudus. (Foto: JP)

Jurnalpantura.id, Kudus – Rotary Club Kudus dan Rotary Club Kudus Srikandi bersama Rotary Club Semarang Kunthi serta RS Mardi Rahayu Kudus menggelar Pelatihan Dasar Skrining Kesehatan Mata bagi Guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Kudus.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mendukung kesehatan mata anak usia sekolah.

Pelatihan diikuti sebanyak 50 guru SD yang berasal dari wilayah binaan Puskesmas Wergu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus.

Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai cara mengenali gangguan penglihatan pada anak serta melakukan pemeriksaan awal ketajaman penglihatan sebelum siswa mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga kesehatan.

Presiden Rotary Club of Kudus, Paulus Rawuh, mengatakan pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengawal kesehatan mata generasi penerus bangsa yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar.

Menurutnya, guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari sehingga dapat menjadi pihak pertama yang mengenali adanya gangguan penglihatan.

“Diharapkan gangguan kesehatan mata dapat terdeteksi sejak dini sehingga penanganan dan pencegahan kebutaan dapat dilakukan secara tepat,” ujar Paulus.

Ia menjelaskan, gangguan penglihatan dapat berdampak terhadap proses belajar anak. Siswa yang mengalami kelainan penglihatan terkadang dianggap kurang pandai atau malas belajar, padahal kondisi tersebut bisa terjadi karena mereka kesulitan melihat materi pelajaran dengan jelas.

“Anak-anak yang memiliki kelainan penglihatan sering kali bukan karena tidak pandai, melainkan karena tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik akibat penglihatan yang kurang tajam,” jelasnya.

Baca Juga :  Kirab Bwee Gee Kudus Semarak, Peserta Datang dari Gresik hingga Tangerang

Paulus menyebut salah satu gangguan yang banyak ditemukan pada anak adalah kelainan refraksi, seperti miopi atau rabun jauh. Dalam pelatihan tersebut, guru diajarkan melakukan skrining sederhana menggunakan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan enam meter.

“Jadi nanti guru dilatih melakukan screening sederhana menggunakan Kartu Snellen dengan jarak pemeriksaan 6 meter. Setiap sekolah akan diberikan fasilitas kartu tersebut agar pemeriksaan dapat dilakukan secara rutin,” terangnya.

Program tersebut, lanjut Paulus, tidak hanya dilaksanakan di Kudus, tetapi juga menyasar para guru di wilayah Pati dan Semarang.

Rotary Club juga menyiapkan dukungan lanjutan berupa bantuan kacamata gratis bagi siswa SD yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan alat bantu penglihatan.

Sementara itu, Direktur RS Mardi Rahayu, dr. Pujianto, menyatakan pihaknya menyambut baik dan mendukung inisiatif tersebut.

Sebagai fasilitas kesehatan tingkat lanjut, RS Mardi Rahayu siap menyediakan tenaga ahli dan fasilitas yang diperlukan untuk mendukung upaya deteksi dini gangguan penglihatan pada anak.

“Saat ini, terjadi fenomena ‘tsunami informasi’ melalui gadget. Oleh karena itu, selain deteksi dini, edukasi pencegahan seperti cara membaca yang benar dan posisi memegang HP yang tepat juga sangat penting untuk disampaikan,” tuturnya.

Program ini akan dievaluasi setelah berjalan untuk mengetahui tingkat temuan kasus. Jika ditemukan angka gangguan penglihatan yang tinggi, cakupan kegiatan diharapkan dapat diperluas dari tingkat kota hingga seluruh wilayah Kabupaten Kudus. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru