Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus terus melalukan upaya untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi. Salah satunya, dengan menggalakkan sosialisasi hamil 4T (Terlalu Banyak, Terlalu Rapat, Terlalu Muda, dan Terlalu Tua).
“Kita berorientasi pada program kami untuk menurunkan angka kematian itu ada 4T. Itu alarm kita,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto, belum lama ini.
Antisipasi hamil dengan 4T di Kudus, lanjut Nuryanto, telah dilakukan dengan berbagai upaya. Di antaranya, melalui pencanangan program KB (Keluarga Berencana), yang dapat diwujudkan dalam pemasangan alat kontrasepsi.
“Bisa pakai pil tablet, suntik KB, pemasangan implan, atau IUD. Itu juga dilakukan sebagai upaya dalam rangka menekan angka kematian ibu, agar jarak kelahiran itu tidak terlalu rapat dan tidak terlalu banyak,” tuturnya.
Disamping itu, pihaknya juga melakukan pencegahan dini melalui edukasi calon ibu. Mereka dipersiapkan sejak remaja, dengan menggalakkan program minum tablet tambah darah rutin. Kemudian, sebelum menikah akan dilakukan screening kesehatan awal.
Selanjutnya, pada saat masa kehamilan, calon ibu tersebut dikawal agar rutin melakukan Antenatal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan sebanyak 6 kali di puskesmas. DKK Kudus, kata Nuryanto, telah menyiapkan tenaga medis yang berkompeten untuk program ANC.
“Di semua puskesmas juga sudah ada USG, dokter yang berkompeten yang sudah mendapatkan pelatihan. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan ANC ini, agar bisa mengantisipasi terjadinya kematian ibu atau bayi,” terangnya.
Nuryanto membeberkan, hingga Juni 2024, sudah 36 kasus kematian bayi dan 2 kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus. Mayoritas kasus kematian ibu dan bayi tersebut terjadi setelah penanganan akhir di rumah sakit, yang artinya kondisinya memang sudah kritis. ***










