DKK Kudus: Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi dengan Upaya ‘4 Terlalu’

- Jurnalis

Kamis, 18 Juli 2024 - 11:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemasangan KB implan. (Foto:J05)

Pemasangan KB implan. (Foto:J05)

Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus terus melalukan upaya untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan bayi. Salah satunya, dengan menggalakkan sosialisasi hamil 4T (Terlalu Banyak, Terlalu Rapat, Terlalu Muda, dan Terlalu Tua).

“Kita berorientasi pada program kami untuk menurunkan angka kematian itu ada 4T. Itu alarm kita,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto, belum lama ini.

Antisipasi hamil dengan 4T di Kudus, lanjut Nuryanto, telah dilakukan dengan berbagai upaya. Di antaranya, melalui pencanangan program KB (Keluarga Berencana), yang dapat diwujudkan dalam pemasangan alat kontrasepsi.

“Bisa pakai pil tablet, suntik KB, pemasangan implan, atau IUD. Itu juga dilakukan sebagai upaya dalam rangka menekan angka kematian ibu, agar jarak kelahiran itu tidak terlalu rapat dan tidak terlalu banyak,” tuturnya.

Disamping itu, pihaknya juga melakukan pencegahan dini melalui edukasi calon ibu. Mereka dipersiapkan sejak remaja, dengan menggalakkan program minum tablet tambah darah rutin. Kemudian, sebelum menikah akan dilakukan screening kesehatan awal.

Baca Juga :  Sehari Diresmikan, BLK Pecangaan Tampung PP Dari Bali

Selanjutnya, pada saat masa kehamilan, calon ibu tersebut dikawal agar rutin melakukan Antenatal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan sebanyak 6 kali di puskesmas. DKK Kudus, kata Nuryanto, telah menyiapkan tenaga medis yang berkompeten untuk program ANC.

“Di semua puskesmas juga sudah ada USG, dokter yang berkompeten yang sudah mendapatkan pelatihan. Jadi masyarakat bisa memanfaatkan ANC ini, agar bisa mengantisipasi terjadinya kematian ibu atau bayi,” terangnya.

Nuryanto membeberkan, hingga Juni 2024, sudah 36 kasus kematian bayi dan 2 kasus kematian ibu di Kabupaten Kudus. Mayoritas kasus kematian ibu dan bayi tersebut terjadi setelah penanganan akhir di rumah sakit, yang artinya kondisinya memang sudah kritis. ***

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 65 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru