Jurnalpantura.id, Kudus – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Kudus terus diperluas memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Dinas Kesehatan Kudus kini memperkuat layanan pemeriksaan preventif dengan memberikan perhatian lebih terhadap kelompok anak sekolah.
Sekretaris Dinas Kesehatan (DKK) Kudus, Nuryanto, mengatakan program CKG telah berlangsung sejak awal 2025 dan memiliki sasaran yang cukup luas. Pemeriksaan tersebut mencakup masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai bayi baru lahir hingga lanjut usia.
Menurut Nuryanto, keberadaan CKG tidak hanya bertujuan menemukan penyakit, tetapi juga mendorong masyarakat melakukan pencegahan sejak dini. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat menjadi dasar untuk segera memberikan penanganan apabila ditemukan gangguan kesehatan.
“CKG ini sudah masuk tahun kedua. Kami terus melakukan evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya untuk memaksimalkan kegiatan, karena sasaran program sangat luas, mulai anak yang baru lahir sampai lansia,” kata Nuryanto.
Untuk memperluas jangkauan, pelaksanaan CKG pada tahun kedua tidak hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan Kudus menggandeng organisasi perangkat daerah, perusahaan, serta berbagai kegiatan di tengah masyarakat agar semakin banyak warga yang memperoleh pemeriksaan kesehatan.
Sekolah menjadi salah satu sasaran penting, terutama pada momentum tahun ajaran baru. Pemeriksaan difokuskan pada siswa SD dan SMP melalui screening awal untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka sekaligus menemukan kemungkinan gangguan sejak dini.
“Pelayanan CKG dilaksanakan Senin hingga Sabtu pada pagi hari, sekitar pukul 07.00 atau 08.00 WIB. Petugas melakukan screening kesehatan awal terhadap siswa,” tandasnya.
Apabila dari pemeriksaan awal ditemukan indikasi kelainan, siswa akan mendapatkan tindak lanjut melalui Puskesmas. Jika kondisi yang ditemukan membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit.
Sementara siswa yang dinyatakan tidak memiliki masalah kesehatan tetap mendapatkan edukasi mengenai perilaku hidup sehat.
“Kalau ditemukan kelainan akan dirujuk ke Puskesmas, kemudian apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut diteruskan ke rumah sakit. Kalau tidak ada temuan, tetap diberikan edukasi dan promosi kesehatan,” jelasnya.
Hingga saat ini, kelompok anak sekolah menjadi penyumbang capaian CKG terbesar, dengan realisasi Kudus mendekati 52 persen dari target provinsi sebesar 54 persen.
Di sisi lain, pencegahan stunting terus diperkuat melalui pemenuhan protein hewani, salah satunya lewat program Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).
Ia menekankan pentingnya pemenuhan protein bagi ibu hamil hingga anak berusia dua tahun sebagai periode penting pertumbuhan.
“Harapannya kolaborasi berbagai pihak dapat membantu mempertahankan capaian kesehatan Kudus sekaligus memperluas kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit sejak dini,” pungkasnya. (J05/A01)










