Antisipasi DBD, DKK Kudus Monitor Rutin Wilayah yang Berbatasan dengan Jepara

- Jurnalis

Sabtu, 2 Maret 2024 - 11:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Kudus, Darsono. (Foto:J02)

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Kudus, Darsono. (Foto:J02)

Jurnalpantura.id, Kudus – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mendapatkan sorotan dari Dinas Kesehatan Kabupaten  (DKK) Kudus. Ini melihat, bahwa kasus penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti ini sudah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Kabupaten Jepara.

Berbagai upaya dilakukan oleh DKK Kudus agar kasus serupa tidak terjadi di wilayah setempat. Salah satunya, dengan melakukan monitor secara ketat di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Jepara.

“Yang dekat Jepara, seperti Sidorekso dan wilayah lainnnya, kemarin kesana kita pantau supaya tidak masuk. Alhamdulillah belum ke situ (Kudus),” ujar Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Kudus, Dharsono.

Pihaknya menuturkan bahwa hingga saat ini, belum ada kasus meninggal dunia karena penyakit DBDyang ditemukan sepanjang Bulan Januari hingga Februari 2024. Pasien yang dirawat di puskesmas masih minim yakni sebanyak 10 pasien di Bulan Februari.

Meliputi, satu pasien di Puskesmas Kaliwungu, dua pasien di Puskesmas Purwosari, satu pasien di Puskesmas Rendeng, dua pasien di Puskesmas Ngembal Kulon, satu pasien di Puskesmas Dersalam, dua pasien di Puskesmas Dawe, dan satu pasien di Puskesmas Gondosari.

Baca Juga :  Dukung Pusat Penanganan Kecelakaan RS Mardi Rahayu, BRI Hibahkan Ambulans

“Alhamdulillah belum ada kasus meninggal, dan semoga tidak ada,” tandasnya.

Dharsono juga mengingatkan kepada masyarakat untuk terus menguatkan 3M Plus DBD, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, mendaur ulang berbagai barang yang berpotensi dijadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes.

Sementara poin plus-nya, diantaranya, menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan secara bersama, dan lainnya.

“Karena satu kasus meninggal aja itu sudah KLB. Jadi untuk antisipasi, kita waspada karena cuaca seperti ini, yang dikuatkan adalah 3M Plus, itu yang penting,” tandasnya. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 71 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru