Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mendorong kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dikpora) untuk memperkuat edukasi kepada orang tua mengenai penggunaan gadget pada anak usia dini.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang risiko paparan layar berlebihan terhadap kesehatan anak.
Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, mengatakan edukasi mengenai penggunaan perangkat digital perlu dilakukan secara bersama-sama. Menurutnya, orang tua memiliki peran utama dalam menentukan kebiasaan anak sejak usia dini.
Ia menegaskan, anak yang berusia di bawah dua tahun sebaiknya tidak diberikan gadget. Pembatasan tersebut menjadi salah satu upaya pencegahan agar anak tidak terlalu dini terpapar layar yang berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama mata.
“Jadi kami menyarankan ataupun mengedukasi supaya anak-anak di bawah 2 tahun itu harus free LCD, atau sorry, free katakanlah free monitor. Jadi tidak boleh anak di bawah 2 tahun itu diberikan gadget,” ujar dr. Hakam.
Menurut Hakam, penggunaan gadget sejak usia terlalu dini dikhawatirkan baru terlihat dampaknya ketika anak memasuki usia berikutnya. Gangguan kesehatan mata, termasuk gangguan refraksi, dapat mulai diketahui ketika anak berusia sekitar empat hingga enam tahun.
“Kami menginginkan seperti itu karena apa? Nanti implikasinya ke depan anak-anak usia 4, 5, 6 tahun nanti sudah ada problem di matanya. Itu karena apa? Terlalu dini melihat handphone ataupun gadget itu,” katanya.
Ia menambahkan, pencegahan dinilai lebih baik dilakukan sejak awal daripada menunggu gangguan mata muncul. Karena itu, orang tua diminta tidak menganggap pemberian gadget kepada anak sebagai kebiasaan yang sepele, terutama bagi anak yang masih berusia sangat dini.
“Kalau di bawah 2 tahun sudah diberikan handphone, nah itu pasti akan efeknya di usia 4, 5, 6 tahun ketahuan kalau dia ada gangguan refraksi atau gangguan mata,” lanjutnya.
Sementara untuk anak berusia dua hingga lima tahun, Abdul Hakam menyebut penggunaan gadget tetap perlu dibatasi. Berdasarkan anjuran dokter mata yang disampaikannya, durasi penggunaan layar bagi kelompok usia tersebut maksimal sekitar satu jam.
“Kalau 2 sampai 5 tahun, batasan dari dokter mata aja maksimal 1 jam. Jadi 2 tahun sampai 5 tahun itu maksimal 1 jam,” ujarnya.
Selain membatasi durasi, orang tua juga diminta memberikan contoh dalam penggunaan gadget sehari-hari.
Anak cenderung meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya, sehingga pengurangan penggunaan perangkat digital oleh orang tua di hadapan anak diharapkan dapat membantu membentuk pola penggunaan yang lebih sehat.
“Orang tua harus memberi contoh supaya anak-anak juga tidak nyontoh orang tuanya. Kalau orang tuanya atau sekitarnya 6 jam, ya pasti anak-anaknya jadi penginnya 6 jam,” tegasnya. (J05/A01)










