Periksa Kesehatan Sebelum Menikah, DKK Kudus Soroti Risiko Gangguan Jiwa Turunan

- Jurnalis

Kamis, 18 September 2025 - 12:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi. Kesehatan. (Foto: Pixabay)

Ilustrasi. Kesehatan. (Foto: Pixabay)

Jurnalpantura.id, Kudus – Pepatah Jawa “bibit, bebet, bobot” yang sejak lama dijadikan pedoman dalam memilih pasangan hidup, ternyata masih sangat relevan di era modern.

Tiga unsur tersebut, bibit (asal-usul/keturunan), Bebet (latar belakang sosial ekonomi), dan bobot (kepribadian dan kualitas diri), menjadi landasan penting dalam membangun rumah tangga yang sehat dan harmonis.

Kini, pemaknaan terhadap pepatah ini semakin luas, termasuk mempertimbangkan aspek kesehatan fisik dan mental sebagai faktor warisan dari keluarga.

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto, peningkatan kesadaran terhadap kesehatan mental menjadi hal penting yang seharusnya dipertimbangkan sejak sebelum menikah.

Ia mengungkapkan bahwa berbagai gangguan kesehatan jiwa ringan mulai banyak ditemukan di masyarakat, yang sebagian besar bisa jadi merupakan kondisi turunan atau hasil dari lingkungan keluarga yang tidak sehat secara psikologis.

Dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar sepanjang Januari hingga pertengahan September 2025, tercatat sebanyak 563 orang menunjukkan gejala kecemasan dan 687 orang mengarah ke depresi dari total 89.535 orang yang diperiksa.

Baca Juga :  Anggarkan Rp 5,7 Miliar, Pemkab Kudus Bakal Merevitalisasi 8 Pasar Rakyat

Temuan ini menjadi sinyal penting bahwa kesehatan mental masyarakat perlu lebih diperhatikan, tidak hanya pascamenikah, tetapi juga sebelum membangun keluarga.

“Kecemasan dan depresi ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan jiwa yang lebih serius jika tidak segera ditangani. Mulai dari waham, bahkan hingga skizofrenia,” ungkap Nuryanto dalam keterangannya, Kamis, 18/9/2025.

Kesehatan mental yang terganggu bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada keturunan yang akan dilahirkan. Oleh karena itu, deteksi dini melalui fasilitas seperti CKG di puskesmas menjadi sangat krusial.

“Jika ditemukan indikasi awal gangguan, maka bisa langsung dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” tambahnya.

Menariknya, DKK Kudus juga menemukan adanya kasus gangguan jiwa pada anak usia sekolah, yang disebabkan oleh tekanan sosial seperti perundungan.

Dalam hal ini, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) telah diterjunkan untuk melakukan edukasi ke sekolah-sekolah sebagai bagian dari upaya preventif terhadap kesehatan mental anak. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru