SMP 4 Bae Sukses Narasikan Isu Kemiskinan dalam Pentas Teater

- Jurnalis

Kamis, 18 Juli 2024 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah anak remaja yang sedang dalam pertumbuhannya, terbentur dengan keadaan keluarga yang serba pas-pasan (Foto:JP)

Kisah anak remaja yang sedang dalam pertumbuhannya, terbentur dengan keadaan keluarga yang serba pas-pasan (Foto:JP)

Jurnalpantura.id, Kudus – Teater pelajar SMP 4 Bae Kudus berhasil mengangkat narasi kemiskinan dalam pementasan bertajuk Blok B di Aula SMP 4 Bae, Rabu 17/07/2024.

Dalam pementasan itu, menampilkan adegan demi adegan yang menunjukkan potret keluarga yang terhimpit kebutuhan ekonomi.

Pentas garapan atas kolaborasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia bersama peserta workshop Seni Pertunjukan Teater Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) dimainkan 13 aktor pelajar.

Pementasan yang digarap Dono dan Azizah itu menampilkan kisah anak remaja yang sedang dalam pertumbuhannya, terbentur dengan keadaan keluarga yang serba pas-pasan.

Guru Bahasa Indonesia SMP 4 Bae, Azizah menuturkan bahwa pentas berjudul Blok B menceritakan momen keluarga yang terjerat kebuntuan ekonomi.

Di tengah konflik, bapak sang anak meninggal dunia sehingga tragedi itu membuat anak yang semula nakal itu mulai menyadari sikapnya.

“Endingnya, sang anak dari keluarga itu akhirnya sadar dan memperbaiki diri setelah kejadian tersebut,” ujar Azizah.

Baca Juga :  Menang Adu Pinalti, SMPN 3 Juara Sepakbola Popda Kudus
Pentas teater kolaborasi MGMP Bahasa Indonesia beserta peserta workshop BBDF (Foto:JP)

Melihat antusias peserta dan penonton yang tinggi, Azizah menilai adanya semangat berkesenian dari para siswa. Dia menuturkan bahwa teater dapat menjadi salah satu wadah penting dalam menumbuhkan karakter siswa.

“Pertunjukan teater bagian dari seni. Dan melalui teater anak-anak bisa memahami diri, berkolaborasi, dan belajar menahan ego masing-masing,” ujarnya.

Ke depan ia bersama guru Bahasa Indonesia lainnya ingin lebih dalam dan luas lagi dalam mengenalkan seni teater kepada para siswa. Baik melalui ekstrakurikuler maupun menonton pertunjukan.

“Sebagai guru Bahasa Indonesia tentunya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana agar kita bisa menggali bakat anak-anak. Utamanya di bidang seni,” ungkapnya.

Sementara itu, Tokoh utama dalam pementasan tersebut, Fatya mengaku senang bisa kembali ikut pentas. Produksi kedua ini merupakan momen yang harus dimaksimalkan.

“Dari awal di teater sempat harus belajar lebih. Tetapi semakin banyak belajar semakin banyak ilmu yang didapat,” ungkapnya. (J02/A01)

Berita Terkait

Dari Sentilan Orba hingga Harapan Hari Esok, Teater Qi Pentaskan “Bangun Pagi Bahagia” di Kudus
Melalui Mega-Mega, Teater Satoesh Ajak Penonton Melihat Kehidupan Kaum Terpinggirkan
Toko Seragam di Kudus Kebanjiran Pesanan, Termasuk Pesanan Kolektif Sekolah
Wakapolres Kudus Ungkap Akar Kenakalan Remaja dalam Diskusi Pelajar NU
Surat Cinta Siswa SMK di Kudus ke Presiden Prabowo : Jatah Makan Saya, Biarlah Jadi Gaji Guru Saya
33 Tim Se-Karesidenan Bersaing di Daba Volley Competition 2025
“Dagdigdug”: Kritik Tajam Teater Satoesh UIN Kudus atas Hilangnya Kejujuran di Tengah Kepalsuan Zaman
Rayakan Hari Batik Nasional, Siswa RA di Kudus Antusias Belajar Membatik dengan Canting
Berita ini 131 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 12:19 WIB

Dari Sentilan Orba hingga Harapan Hari Esok, Teater Qi Pentaskan “Bangun Pagi Bahagia” di Kudus

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:54 WIB

Melalui Mega-Mega, Teater Satoesh Ajak Penonton Melihat Kehidupan Kaum Terpinggirkan

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:05 WIB

Toko Seragam di Kudus Kebanjiran Pesanan, Termasuk Pesanan Kolektif Sekolah

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:29 WIB

Wakapolres Kudus Ungkap Akar Kenakalan Remaja dalam Diskusi Pelajar NU

Jumat, 3 April 2026 - 08:33 WIB

Surat Cinta Siswa SMK di Kudus ke Presiden Prabowo : Jatah Makan Saya, Biarlah Jadi Gaji Guru Saya

Berita Terbaru