Panti, Guru PAI di Kudus Rela Tempuh 50 Kilometer Demi Mengajar di SMP 3 Dawe

- Jurnalis

Sabtu, 25 Mei 2024 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Panti, Guru PAI di SMP Negeri 3 Dawe saat bersama para muridnya. (Foto:Istimewa)

Panti, Guru PAI di SMP Negeri 3 Dawe saat bersama para muridnya. (Foto:Istimewa)

Jurnalpantura.id, Kudus – Guru PPPK di Kabupaten Kudus rela menempuh jarak sejauh 50 kilometer demi mengajar di sekolah yang berada di Dukuh Waringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Dia adalah Panti, guru PAI di SMP 3 Dawe.

Panti, yang saat tinggal di Desa Kuthuk, Kecamatan Undaan, Kudus harus bangun pukul 02.00 WIB agar tidak terlambat mengajar. Ini mengingat, lokasi rumahnya yang berada di ujung Selatan, sedangkan sekolah Ia mengajar berlokasi di ujung Utara Kudus.

Ia rela menempuh perjalanan sampai 50 kilometer tiap hari itu, karena selain dia mengasuh anak-anaknya yang masih kecil, juga mengurus orang tuanya. Terlebih, orangtuanya saat ini dalam kondisi sudah tua dan rentan sakit.

“Jadi, saya tidak mungkin kos atau nyewa rumah,” ungkapnya.

Dengan begitu, ia tiap harus bangun pukul 02.00 untuk menjalankan rutinitas sebagai ibu, seperti menyiapkan sarapan hingga keperluan anak sekolah. Sebab, Panti adalah seorang single parent.

“Pukul 05.00 harus sudah beres semua. Saya berangkat dari rumah pukul 05.15. Anak-anak saya karena sekolahnya dekat rumah, mereka berangkat naik sepeda. Itupun berangkatnya pukul 06.00,” ucapnya.

Baca Juga :  Entaskan Stunting, DKK Kudus Kampanyekan Gerakan Perubahan Pola Asuh Balita

Awal-awal menjadi guru di SMP 3 Dawe dia merasa berat. Terutama jika pulang dan kondisi cuaca sangat panas. Bisa membuat kondisi tubuhnya drop.

Dia sudah lima kali menabrak orang di jalan, karena kondisinya sedang Lelah, sehingga tidak fokus. Beruntung tidak sampai berususan besar, karena ia selalu mengakui kalau ia yang salah.

Terutama pada 2023 lalu. Saat itu, dia ikut pendidikan profesi guru (PPG) yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Konsentrasinya terpecah-pecah, antara mengajar, kuliah, mengurus rumah, dan lainnya.

”Saya sampai drop dan opnam tiga kali. Alhammdulillah, tahun ini hasilnya tercapai. Bisa sertifikasi, sehingga bisa saya menikmati,” ungkapnya.

Soal menjadi guru, sudah dijalani Panti sejak 2005. Dari tahun itu hingga 2019 dia menjadi guru honorer di SD 3 Glagahwaru dan SMP Satu Atap (Satap) di Desa Wonosoco, Undaan.

Kemudian, pada 2021 ada rekrutmen tenaga guru sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Ia pun mendaftar dan lolos formasi guru PAI di SMP 3 Dawe. (J05/A01)

Berita Terkait

Jelang Akhir Tahun, Rehab 47 Sekolah Rusak di Kudus Mulai Dikerjakan
148 Sekolah di Kudus Masih Dipimpin Plt, Pemkab Targetkan Tuntas Akhir Tahun
Atap Ruang Guru SMPN 2 Bae Kudus Rusak, Video Kepala Sekolah Viral di Medsos
Inspektorat Catat Masalah K3 hingga Pengelolaan Keuangan pada Program Revitalisasi Sekolah di Kudus
Bukan Sekadar Pilketos, 182 Pelajar Kudus Didorong Pahami Demokrasi Sejak Sekolah
Belajar Sambil Bermain, Badut Sinis Dorong Literasi dan Numerasi Siswa SD 3 Jepang
Monev Revitalisasi Sekolah, Pemkab Kudus Wajibkan P2SP Sesuaikan Harga dengan Indeks Daerah
Kekurangan Guru, 20 Persen Pengajar Bahasa Jawa SMP di Kudus Tak Sesuai Bidang
Berita ini 205 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:14 WIB

Jelang Akhir Tahun, Rehab 47 Sekolah Rusak di Kudus Mulai Dikerjakan

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:48 WIB

Atap Ruang Guru SMPN 2 Bae Kudus Rusak, Video Kepala Sekolah Viral di Medsos

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Inspektorat Catat Masalah K3 hingga Pengelolaan Keuangan pada Program Revitalisasi Sekolah di Kudus

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Bukan Sekadar Pilketos, 182 Pelajar Kudus Didorong Pahami Demokrasi Sejak Sekolah

Sabtu, 26 September 2026 - 22:05 WIB

Belajar Sambil Bermain, Badut Sinis Dorong Literasi dan Numerasi Siswa SD 3 Jepang

Berita Terbaru