Jurnalpantura.id, Kudus – Dalam rangka Hari AIDS Sedunia, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus melakukan skrining dini serta penyuluhan tentang pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di lingkungan pondok pesantren (ponpes).
Kegiatan skrining AIDS diikuti oleh sebanyak 200 santri dan santriwati pondok pesantren di Kabupaten Kudus. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan penyuluhan, bertempat di Kantor Kemenag Kudus, Jumat (1/12/2023).
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKK Kudus, Darsono menyampaikan, kegiatan penyuluhan ini dilakukan, dengan harapan agar seluruh masyarakat mendapatkan skrining awal tentang HIV/AIDS.

“Harapan kami semua bisa tertangani secara kontinyu, jadi mereka ini nantinya akan menjadi agen yang akan menyebarkan edukasi tentang HIV/AIDS di lingkungannya masing-masing,” katanya.
Darsono menambahkan, 200 santri dan santriwati yang ikut skrining dan penyuluhan ini merupakan sampling dari sekira 30 ponpes yang ada di Kabupaten Kudus. Hasilnya diketahui non reaktif semua.
“Hasilnya NR (Non-Reaktif) semua,” tandasnya.
Sementara itu, Aktivis HIV/AIDS di Kabupaten Kudus, Eni Mardiyanti menambahkan bahwa tren kasus HIV/AID di Kudus tidak terlalu meningkat taja. Namun, tetap perlu diwaspadai sebab angka kasus masih cukup tinggi.
“Total kasus hingga Oktober 2023 ini ada 134 temuan, dimana 87 temuan diantaranya adalah laki-laki dan 47 temuan lainnya adalah perempuan,” katanya.
Pihaknya pun berharap, dengan adanya kegiatan skrining dini dan penyuluhan yang dilakukan secara masif, maka angka kasus HIV/AIDS di Kudus bisa tertangani dengan maksimal.
Salah satunya, di lingkungan pondok pesantren, yang menurutnya, kepahaman dan kesadaran terkait HIV/AIDS belum tersentuh dengan maksimal. Sehingga, dengan kegiatan ini, nantinya bisa menjadi bagian dari agen pencegahan dan penangangan HIV/AIDS.
“Kan kita pahamkan agar mereka bisa memberikan edukasi kepada sesamanya dan jangan takut untuk skrining, tidak hanya ngomong tapi juga sudah melakukan skrining HIV/AIDS,” tukasnya. (J05/A01)










