oleh

23 Pemain ASTI Tampil di Elite Pro Academy

Jurnalpantura.id, Kudus – Sebanyak 23 pemain sepakbola Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI) Kabupaten Kudus lolos seleksi dan tampil di ajang Elite Pro Academy (EPA).

EPA merupakan kompetisi usia muda di bawah naungan klub peserta Liga 1 PSSI.

Sesuai ketentuan, klub yang berlaga di Liga 1 wajib memiliki akademi berjenjang usia muda mulai dari usia 14 tahun (U14), 16 tahun (U16) dan usia 18 tahun (U-18).

Setiap tahunnya diadakan kompetisi di ketiga jenjang usia tersebut, dengan titel kompetisi Liga EPA.

Chief Executive Officer (CEO) ASTI Kudus Arif Budiyanto mengatakan, dari puluhan peserta didik ASTI, terdapat
23 pemain yang direkrut klub- klub besar untuk diikutkan kompetisi EPA.

Para pemain ASTI sebagian terjaring ikut EPA setelah melalui talent scouting atau pemantauan bakat saat mereka tampil di sejumlah kejuaraan nasional. Selain itu melalui metode seleksi oleh sejumlah klub- klub Liga 1 tanah air.

“Para pemain ASTI yang lolos dan bergabung diklub-klub sepakbola ternama di Indonesia, terbagi di U14 ada 18 pemain, U16 tiga pemain dan U18 dua pemain,” Kata Arif Budianto.

23 pemain ASTI Kudus bergabung di kompetisi usia muda dibawah naungan Klub peserta Liga 1 (Foto:J02)

Mereka memperkuat Liga EPA di klub RANS dan Madura United masing- masing tujuh pemain, Dewa United dan Persikabo Bogor masing- masing tiga pemain, Borneo FC dua pemain, serta PSIS Semarang satu pemain.

“Untuk kompetisi EPA U16 dan U18 sudah berjalan mulai 6 Agustus lalu. Sedang kompetisi EPA U14 baru diputar mulai 4 September besuk,” Ujarnya.

Menurutnya para pemain ASTI itu dikontrak selama musim kompetisi berjalan.

Selama ikut kompetisi para pemain mendapatkan akomodasi, dan mereka berhak menerima uang saku.

Tahun 2022 ini, pemain ASTI yang direkrut di ajang EPA jumlahnya cukup banyak.

Pemain beruntung di usia pembinaan ini, antara lain Alessandro Nesta di Borneo FC, Alfiansyah (Madura United), Komang Alit (RANZ) dan Alfian Daniel (Persikabo). Tahun lalu pemain ASTI yang lolos hanya dua orang.

Pihaknya berharap, para pemain ASTI yang lolos dalam EPA bisa memanfaatkan kesempatan itu sebaik- baiknya. Sebab tidak semua sekolah sepak bola (SSB) di Kudus bisa mengirimkan siswanya ke tingkat nasional.

“Itu bedanya kami dengan SSB lain. Kami ada inisiatif untuk penyaluran anak- anak ke jenjang lebih tinggi. Jadi anak-anak punya pengalaman bertanding ke tingkat nasional,” ungkapnya.

Anak didiknya yang ikut kompetisi EPA, akan kembali ke ASTI Kudus lagi jika ajang tersebut sudah selesai.

Namun tidak menutup kemungkinan kalau siswanya dapat melanjutkan di klub sepakbola pilihannya jika memang dianggap berkualitas.

“Bila memang dinilai istimewa sangat mungkin ditarik akademi dari liga 1 tersebut,” Pungkasnya. (J02/A01)

Komentar