Jurnalpantura.id, Kudus – Wacana Presiden RI Prabowo Subianto untuk menambah pembelajaran bahasa asing seperti Portugis dan Prancis pada jenjang pendidikan dasar hingga menengah mendapat perhatian dari berbagai kalangan pendidikan.
Gagasan tersebut dinilai positif sebagai upaya meningkatkan daya saing generasi muda di tengah perkembangan global yang semakin kompetitif.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus, Ahadi Setiawan, menyatakan bahwa penambahan mata pelajaran bahasa asing dapat menjadi langkah maju bagi dunia pendidikan.
Namun, menurutnya, kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing daerah agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru.
“Kalau arahan atau gagasan itu baik, tentu kami menyambut positif. Namun, kita harus melihat daerah mana yang memungkinkan untuk menindaklanjutinya. Tidak bisa digeneralisasikan di setiap kota, setiap sekolah, maupun setiap provinsi,” kata Ahadi, Kamis, 4/7/2026.
Ia menjelaskan, tidak semua sekolah memiliki sumber daya yang sama untuk menjalankan program pembelajaran bahasa asing tambahan. Di Kabupaten Kudus sendiri, hanya sebagian sekolah yang dinilai memiliki kesiapan untuk mengembangkan mata pelajaran tersebut.
Menurut Ahadi, evaluasi terhadap pembelajaran bahasa asing yang telah berjalan saat ini juga perlu menjadi bahan pertimbangan pemerintah.
Ia menilai kemampuan bahasa Inggris peserta didik di sejumlah sekolah masih memerlukan peningkatan agar hasil yang dicapai lebih optimal.
“Bahasa Inggris yang sudah diberikan selama ini saja pencapaian kemampuan peserta didiknya masih perlu menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan. Jadi perlu dipertimbangkan secara matang jika akan menambah bahasa asing baru,” ujarnya.
Meski demikian, Ahadi melihat peluang penerapan bahasa asing tambahan dapat dilakukan secara bertahap. Ia menilai jenjang sekolah menengah atas lebih memungkinkan menjadi tahap awal penerapan karena kesiapan peserta didik dan fasilitas pendidikan relatif lebih baik.
“Kalau diterapkan mungkin bisa dimulai di tingkat SLTA. Namun tetap tidak bisa semua sekolah, kabupaten, atau provinsi menjalankannya secara sama. Tantangan global memang menuntut generasi muda memiliki kemampuan yang lebih baik, termasuk penguasaan bahasa asing,” paparnya.
Selain aspek peserta didik, Ahadi menekankan pentingnya kesiapan tenaga pendidik. Ia menyebut ketersediaan guru bahasa asing tertentu masih terbatas, bahkan kebutuhan guru pada sejumlah mata pelajaran utama di beberapa daerah juga belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kesiapan tenaga pendidik harus menjadi perhatian utama. Jika pemerintah memiliki gagasan seperti itu tentu bagus, tetapi harus dipersiapkan terlebih dahulu,” tandasnya. (J05/A01)










