Jurnalpantura.id, Kudus – Sebanyak tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMP) berhasil lolos tahap administrasi dalam Lomba Sekolah Sehat tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2026. Sebelumnya, terdapat sekitar 12 sekolah yang mengikuti seleksi pada ajang tahunan tersebut.
Tujuh sekolah yang dinyatakan melaju ke tahap berikutnya yakni SMPN 1 Mejobo, SMPN 4 Bae, SMPN 2 Jekulo, SMP Muhammadiyah 1 Kudus, SMPN 1 Kaliwungu, SMPN 1 Jati, dan SMPN 2 Jati.
Seluruh sekolah tersebut kini menjalani proses visitasi dan verifikasi lapangan oleh tim penilai.
Kunjungan lapangan dilakukan secara bertahap sesuai jadwal yang telah ditentukan. Pada Kamis, 11/6/2026, tim penilai melaksanakan visitasi di SMPN 1 Jati untuk melihat secara langsung penerapan program kesehatan di lingkungan sekolah.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Edi Kusworo, mengatakan bahwa Lomba Sekolah Sehat bertujuan membangun budaya hidup bersih dan sehat di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan sehat sejak usia dini.
“Lomba ini digelar untuk menumbuhkan kebiasaan baik dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah,” ujarnya saat kegiatan penilaian.
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah aspek yang menjadi fokus penilaian, di antaranya manajemen kesehatan sekolah, pendidikan kesehatan, kondisi lingkungan sekolah yang sehat, hingga pelayanan kesehatan seperti keberadaan dan fungsi Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Menurut Edi, proses penilaian melibatkan berbagai unsur lintas sektor agar hasil yang diperoleh lebih objektif dan komprehensif.
“Untuk tim penilai ada empat komponen, dan kita bekerja sama dengan lintas sektor, ada dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama,” katanya.
Lomba Sekolah Sehat sendiri rutin diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari pembinaan kepada satuan pendidikan. Melalui kompetisi tersebut, sekolah diharapkan semakin termotivasi untuk menerapkan berbagai program kesehatan secara berkelanjutan.
“Jadi biar semangat dan antusias, pembinaan ke sekolah ini kita kemas dalam sebuah lomba,” tutur Edi.
Ia menambahkan, setelah proses visitasi selesai, masing-masing sekolah akan menerima catatan dan masukan dari tim penilai sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Jati, Sumaryatun, menyampaikan bahwa budaya hidup bersih dan sehat telah menjadi kebiasaan yang terus ditanamkan kepada siswa.
“Jadi untuk cuci tangan saja itu ada gerakannya, tidak hanya yang penting kena air dan sabun, itu juga kita ajarkan dan biasakan kepada anak,” ujarnya.
Selain itu, sekolah juga membiasakan siswa untuk memilah dan membuang sampah dengan benar guna menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman. (J05/A01)










