Suarakan Persatuan dan Isu Sosial di Festival Memeden Gadhu 2025

- Jurnalis

Minggu, 4 Mei 2025 - 13:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penampilan Ramesty Band  (Foto:Istimewa)

Penampilan Ramesty Band (Foto:Istimewa)

Jurnalpantura.id, Jepara – Festival Memeden Gadhu 2025 Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, dihari kedua pada Sabtu 03/05/2025, menampilkan Ramesty Band dari Jepara.

Pembina Ramesty Band Jepara Didin Jenggo menuturkan bahwa kali ini kami diundang dalam kegiatan ‘Festival Memeden Gadhu 2025’ di Desa Kepuk.

“Iya, kami live perform dalam rangka Festival Memeden Gadhu 2025,” katanya.

Live perform musik yang dimainkan ‘Ramesty Band’ sangat energik dan disela-sela musik disisipkan pesan persatuan dan issue -issue sosial.

Ada beberapa lagu yang dibawakan secara khusus, seperti ‘Ampuh-Ampuhan Tuhan, dan lagu -lagu bergenre reggae lainnya, total ada 20 lagu lebih yang dibawakan Ramesty Band di Festival Memeden Gadhu 2025.

“Kami sangat berbahagia dapat berkontribusi menghibur masyarakat Jepara, khususnya warga Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, terima kasih.” Imbuhnya.

Sementara itu, ketua Yayasan Gamapetra Kepuk, Sriyono menyampaikan bahwa festival Memeden Gadhu adalah sebuah festival budaya tradisional di Desa Kepuk Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara, yang dilakukan setiap Jumat Wage bulan Apit (penanggalan Jawa) atau bulan Dzulqaidah (penanggalan Hijriyah).

Baca Juga :  Purna Tugas, 7 Anggota Polres Demak Diarak Becak

Menurut Sriyono, Festival ini merupakan bagian dari upacara sedekah bumi, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan permohonan perlindungan dari hama dan bencana.

Ia juga mengatakan bahwa asal usul festival ini merupakan tradisi kuno petani yang berakar pada kepercayaan dan ritual tradisional.

Lebih lanjut, Sriyono menyampaikan ‘Memeden Gadhu’ memiliki arti ‘mengusir hantu Gadhu’, yaitu hantu yang dipercaya sebagai penyebab hama dan penyakit pada tanaman.

Festival ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah, serta menjaga kearifan lokal dan mengusir hama tani secara ramah lingkungan.

“Festival ini menjadi simbol persatuan, rasa syukur dan upaya pelestarian budaya serta kearifan lokal,” pungkasnya. (J02/A01)

Berita Terkait

Enam Peserta Kudus Ukir Prestasi di MTQ Nasional 2026, Jateng Catat Sejarah Juara Umum II
Lukisan Garam Terbesar di Dunia Bakal Dibuat di Dasun Rembang, Libatkan 20 Seniman
Kodim Kudus Gelar Event Endurance Rayakan HUT TNI, Puluhan Tim Pelajar dan Jurnalis Adu Ketangguhan
Konser Guyon Waton di Simpang 7 Kudus, Satlantas Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
680 Penari Lajur Caping Kalo Siap Ukir Sejarah Lewat Rekor MURI di HUT ke-477
Kudus Fashion on the Street Meriah, Produk Fesyen Lokal Jadi Sorotan
Musthofa Ingatkan Generasi Muda: Pancasila Bukan Sekadar Hafalan
Sabtu Besok, CFN dan Karnaval Budaya Hari Jadi Kudus Bakal Padati Kawasan Simpang Tujuh
Berita ini 70 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 12:38 WIB

Enam Peserta Kudus Ukir Prestasi di MTQ Nasional 2026, Jateng Catat Sejarah Juara Umum II

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Lukisan Garam Terbesar di Dunia Bakal Dibuat di Dasun Rembang, Libatkan 20 Seniman

Minggu, 27 September 2026 - 11:39 WIB

Kodim Kudus Gelar Event Endurance Rayakan HUT TNI, Puluhan Tim Pelajar dan Jurnalis Adu Ketangguhan

Sabtu, 26 September 2026 - 14:58 WIB

Konser Guyon Waton di Simpang 7 Kudus, Satlantas Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

Senin, 21 September 2026 - 16:12 WIB

680 Penari Lajur Caping Kalo Siap Ukir Sejarah Lewat Rekor MURI di HUT ke-477

Berita Terbaru