oleh

SMPN 2 Jati Kudus Implementasikan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Jurnalpantura.id, Kudus – Sekolah Penggerak di Kabupaten Kudus telah menampilkan hasil dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). P5 ini merupakan hasil implementasi Kurikulum Merdeka yang menjadi kurikulum baru bagi Sekolah Penggerak.

Salah satu sekolah di Kudus yang telah mengimplementasi P5 adalah SMPN 2 Jati Kudus. Dalam pengaplikasiannya, sekolah setempat telah rampung mengimplementasikan projek Kearifan Lokal dan Gaya Hidup Berkelanjutan.

“Yang tema Bangunlah Jiwa Raganya akan kita tunjukkan di semester genap nanti,” ujarnya Kepala SMPN 2 Jati Sarpani, Rabu (23/11/2022).

Pada projek Kearifan Lokal, SMPN 2 Jati menampilkan tarian daerah dengan tema Aksiku ber Pancasila di Hari Merdeka. Penampilan itu telah dilakukan pada Agustus 2022 kemarin, tepatnya pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia di SMPN 2 Jati.

“Kearifan lokal, kami melakukan tari adat Kudus yang kita gelar pada Hari Kemerdekaan pada Agustus lalu. Kami seklaigus menggelar dan mementaskan hasil projek kearifal lokal dari tari yang sudah diajarkan, baik di luar maupun di dalam kelas,” terangnya.

Kemudian, untuk projek Gaya Hidup Berkelanjutan, pihaknya mengimplementasikan tema tersebut ke dalam sebuah aktivitas pemanfaatan sampah. Sarpani menjelaskan, sampah yang dimanfaatkan seperti botol bekas yang disulap menjadi aksesoris.

Foto bersama tim tari daerah di SMPN 2 Jati Kudus. (Foto:J05)

“Contoh botol sampah diubah dan dikreasikan menjadi tas atau hiasan dinding. Ini sudah kita lakukan, dan kita manfaatkan sampah atau barang bekas di lingkungan sekolah kita sendiri,” tuturnya.

Sedangkan untuk projek Bangunlah Jiwa Raganya akan dilaksanakan pada semester genap. Rencana yang telah dirancang untuk implementasi tema ini adalah membuat projek video tentang perundungan siswa di sekolah.

Sarpani mengatakan, perundungan siswa menjadi masalah yang belum tuntas di dunia pendidikan. Oleh sebab itu, pihaknya ingin mengedukasi kepada para siswa bahwa perundungan memiliki banyak dampak negatif.

“Harapannya hasil video ini bisa menampilkan karya yang mengajak anak sekolah agar tidak melakukan perundungan. Karena dampak perundungan banyak memiliki dampak negatif dan menjatuhkan mental,” terangnya.

Lebih lanjut, selain menguatkan P5, Sarpani juga menguatkan SDM guru dalam mendukung program sekolah penggerak. Ini mengingat bahwa guru menjadi pihak yang paling dekat dengan siswa.

Guru dituntut untuk bisa memfasilitasi dan mengetahui bakat dan minat siswa. Katanya, Kurikulum Merdeka akan berpusat kepada siswa dan mengembangkan bakat serta minat siswa di sekolah.

“Setelah tau, nanti guru akan mengetahui dari bakat dan minat masing-masing siswa dalam kelas, apakah sistem ini harus dilaksanakan atau diberikan materi dengan metode yang sesuai. Seperti harus menggunakan audio atau video, yang cocok bakat dan minat,” terangnya.

Pihaknya berharap, dengan berbagai kegiatan dan sistem pembelajaran yang telah dijalankan bisa menjadikan SMPN 2 Jati menjadi Sekolah Penggerak yang bisa ditiru oleh sekolah lainnya. Sarpani juga berharap, projek yang telah diimplementasikan kepada siswa dapat membangkitkan semangat belajar di sekolah. (J05/A01)

Komentar