Jurnalpantura.id, Kudus – Pelatihan deteksi dini gangguan kesehatan mata yang diberikan Rotary Club kepada guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, mulai menunjukkan hasil.
Dari skrining dasar yang dilakukan para guru terhadap 400 siswa, sebanyak 250 anak ditemukan memiliki indikasi gangguan kesehatan mata.
Hasil tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pemeriksaan kesehatan mata yang digelar di Puskesmas Wergu, Selasa, 1/9/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Rotary Club untuk membantu mendeteksi gangguan penglihatan pada anak sejak usia sekolah.
District Governor (DG) Rotary International District 3420 Indonesia, I Wayan Tur Adnyana, mengatakan skrining lanjutan dilakukan untuk memastikan kondisi mata anak-anak yang sebelumnya teridentifikasi mengalami gangguan.
Dalam kegiatan tersebut, Rotary Club juga menyerahkan 250 kacamata secara simbolis kepada anak-anak yang membutuhkan.
“Ini menjadi momentum bahwa Rotary bisa melakukan kegiatan yang berdampak bagi anak-anak kita. Ke depan lebih banyak yang bisa kita bantu, tidak hanya di kesehatan, tetapi di pendidikan dan lain sebagainya juga,” ujar Wayan.
Menurutnya, penanganan gangguan penglihatan pada anak tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga berpengaruh terhadap proses belajar.
Karena itu, ia berharap kolaborasi dengan pemerintah daerah dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak anak yang mendapatkan akses pemeriksaan dan penanganan kesehatan mata.
“Anak-anak diberikan fasilitas ini untuk mengurangi mereka bermain gadget, sehingga ketika matanya sudah ditangani mereka akan optimal lagi dalam belajar,” tambahnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, dr. Abdul Hakam, menyambut baik program yang dilakukan Rotary Club tersebut. Ia mengaku terkejut setelah melihat hasil pemeriksaan karena ditemukan anak dengan tingkat gangguan penglihatan yang cukup tinggi.
“Tadi kaget ada anak pas diperiksa langsung ternyata minus tiga, ini sangat prihatin kita di sini dan ini baru satu puskesmas. Maka dari itu, kami sangat apresiasi pelatihan yang diinisiasi Rotary dan pemberian kaca mata,” tuturnya.
Hakam menjelaskan, pemeriksaan dan penanganan kesehatan mata menjadi salah satu kebutuhan yang masih menghadapi keterbatasan pembiayaan.
Ia menyebut layanan pengobatan mata hingga kini belum dapat sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan, sehingga dukungan melalui kegiatan sosial seperti yang dilakukan Rotary dinilai penting di tengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah.
Sementara itu, Kasi Kurikulum Disdikpora Kudus, Maulana Majid, mengatakan pemerintah daerah juga telah mengambil langkah untuk menekan penggunaan gawai pada anak.
Salah satunya melalui Surat Edaran (SE) Bupati Kudus Nomor 400.3/2829/2026 tentang pembatasan penggunaan gawai.
“Dari dinas pendidikan sudah ada SE Bupati 400.3/2829/2026 terkait pembatasan penggunaan gawai, jadi kami mendorong lewat bapak ibu guru untuk sosialisasi ke wali murid, penggunaan gawai, terutama di usia satu sampai dua tahun zero HP,” terangnya.
Majid menambahkan, pengetahuan yang diperoleh 50 guru dalam pelatihan bersama Rotary Club akan disebarluaskan ke sekolah lainnya. Dengan demikian, para guru diharapkan mampu melakukan skrining dasar secara mandiri sehingga gangguan kesehatan mata pada siswa dapat diketahui lebih cepat dan segera ditindaklanjuti. (J05/A01)










