Jurnalpantura.id, Kudus – Operasional layanan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kudus dihentikan sementara selama masa libur sekolah.
Penghentian tersebut berlaku untuk seluruh kegiatan distribusi MBG yang dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), baik kepada siswa maupun kelompok penerima manfaat lainnya.
Ketua Yayasan SPPG Pondok Pesantren Al-Chalimi Kudus, Bambang Budiyanto, mengatakan masa penghentian operasional akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) relawan serta pembenahan standar dapur yang digunakan dalam program MBG.
Menurut Bambang, pihaknya telah menyiapkan program pelatihan bagi seluruh relawan SPPG yang akan berlangsung selama enam hari dan dilaksanakan dalam rentang tiga pekan masa libur sekolah.
Program tersebut difokuskan pada peningkatan kompetensi dan profesionalisme relawan.
“Kami memanfaatkan momentum ini untuk peningkatan SDM relawan. Jadi ada sertifikasi HACCP hingga juru masak,” kata Bambang, Selasa, 23/6/2026.
Ia menjelaskan, penghentian sementara operasional tidak menjadi persoalan besar bagi yayasan sebagai mitra pelaksana.
Namun demikian, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait nasib para relawan yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas di dapur MBG.
Selama operasional berjalan, para relawan memperoleh pendapatan dari keterlibatan mereka dalam proses penyediaan dan distribusi makanan bergizi. Ketika layanan dihentikan selama tiga pekan, sumber pendapatan tersebut otomatis terhenti.
Untuk mengurangi dampak ekonomi yang dirasakan relawan, yayasan memutuskan tetap menggelar pelatihan dengan memberikan uang saku kepada peserta.
Selain memperoleh sertifikasi yang dapat menunjang kemampuan kerja, relawan juga mendapatkan kompensasi meski nilainya tidak setara dengan pendapatan saat operasional normal.
“Karena itu kami menggelar pelatihan ini, selain mendapatkan sertifikasi mereka juga akan diberi uang saku. Setidaknya sebagai pengganti dari pendapatan selama operasional berhenti, meskipun nominalnya tidak penuh,” ungkapnya.
Bambang juga menyoroti kebijakan dari Badan Gizi Nasional (BGN) yang dinilai masih belum konsisten, khususnya terkait penghentian operasional sementara. Ia berharap ada perhatian lebih terhadap kesejahteraan relawan yang terdampak kebijakan tersebut.
Sementara itu, Koordinator SPPG Kudus, Febria Suryaningrum, mengonfirmasi bahwa seluruh SPPG di Kudus akan menghentikan operasional selama masa libur sekolah.
“Benar, berhenti operasional selama libur. Ada 117 SPPG di Kudus,” ujarnya. (J05/A01)










