Lima Ibu Hamil Meninggal hingga Agustus, DKK Kudus Soroti Bahaya Hipertensi

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026 - 09:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Abdul Hakam. (Foto: J05)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Abdul Hakam. (Foto: J05)

Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus memperkuat upaya pencegahan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) melalui peningkatan pengawasan terhadap kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan.

Hingga awal Agustus 2026, tercatat lima kasus kematian yang dialami ibu hamil maupun ibu dalam proses persalinan di Kabupaten Kudus. Penyebab kematian tersebut cukup beragam, di antaranya gangguan hormon tiroid, hipertensi, serta pendarahan.

Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, mengatakan sebagian besar kasus kematian yang terjadi berkaitan dengan hipertensi pada ibu hamil. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius, termasuk stroke, apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Menurutnya, berbagai risiko pada kehamilan sebenarnya dapat diminimalkan apabila ibu rutin melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan secara berkala memungkinkan tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan janin sekaligus mendeteksi potensi komplikasi lebih awal.

“Pendarahan ini kan sebenarnya bisa nanti dicegah lebih awal, tapi karena memang itu tadi, hamilnya kondisinya kurang ada kontrolnya. Jadinya pemeriksaan rutin saat hamil itu penting,” ujar dr. Hakam.

Ia menegaskan, pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) tidak hanya diperlukan ketika ibu mengalami keluhan. Kontrol secara rutin setiap bulan menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi kehamilan tetap terpantau dan faktor risiko dapat segera ditindaklanjuti.

Baca Juga :  Dapat Gelar Kehormatan dari Keraton Solo, Bellinda Birton Ditunjuk Jadi Penasihat Pakubuwono XIV

“Jadi harus kontrol rutin setiap bulan. Selama kehamilan itu harus rutin kontrol satu bulan sehingga bisa dipantau. Kami harap masyarakat memiliki kesadaran itu,” tandasnya.

Apabila ditemukan kehamilan dengan risiko tinggi yang tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, DKK Kudus akan mendorong proses rujukan ke rumah sakit. Rujukan tersebut dapat dilakukan baik untuk pemantauan kehamilan maupun proses persalinan.

“Kalau memang di Kudus belum memungkinkan, ya dirujuk dari kita ke Rumah Sakit Semarang misalkan di RS Kariadi. Ini yang kita harapkan,” tambahnya.

Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, DKK Kudus juga berupaya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit. Pelatihan mengenai pencegahan kematian ibu dan bayi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Itu bisa menekan di situ. Karena bagaimanapun ujung tombaknya adalah di puskesmas maupun fasilitas kesehatan pertama. Ini kan untuk ANC atau antenatal care atau kontrol kehamilan. Ini kan memang harus dipantau,” terangnya.

DKK Kudus berharap penguatan layanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta kesadaran ibu hamil untuk rutin menjalani ANC dapat menekan kasus kematian ibu dan bayi. Masyarakat juga diimbau tidak menunda pemeriksaan, terutama apabila terdapat faktor risiko atau keluhan selama kehamilan. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru