Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus memperkuat upaya pencegahan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) melalui peningkatan pengawasan terhadap kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan.
Hingga awal Agustus 2026, tercatat lima kasus kematian yang dialami ibu hamil maupun ibu dalam proses persalinan di Kabupaten Kudus. Penyebab kematian tersebut cukup beragam, di antaranya gangguan hormon tiroid, hipertensi, serta pendarahan.
Kepala DKK Kudus, dr. Abdul Hakam, mengatakan sebagian besar kasus kematian yang terjadi berkaitan dengan hipertensi pada ibu hamil. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius, termasuk stroke, apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Menurutnya, berbagai risiko pada kehamilan sebenarnya dapat diminimalkan apabila ibu rutin melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan secara berkala memungkinkan tenaga kesehatan memantau kondisi ibu dan janin sekaligus mendeteksi potensi komplikasi lebih awal.
“Pendarahan ini kan sebenarnya bisa nanti dicegah lebih awal, tapi karena memang itu tadi, hamilnya kondisinya kurang ada kontrolnya. Jadinya pemeriksaan rutin saat hamil itu penting,” ujar dr. Hakam.
Ia menegaskan, pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) tidak hanya diperlukan ketika ibu mengalami keluhan. Kontrol secara rutin setiap bulan menjadi bagian penting untuk memastikan kondisi kehamilan tetap terpantau dan faktor risiko dapat segera ditindaklanjuti.
“Jadi harus kontrol rutin setiap bulan. Selama kehamilan itu harus rutin kontrol satu bulan sehingga bisa dipantau. Kami harap masyarakat memiliki kesadaran itu,” tandasnya.
Apabila ditemukan kehamilan dengan risiko tinggi yang tidak dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, DKK Kudus akan mendorong proses rujukan ke rumah sakit. Rujukan tersebut dapat dilakukan baik untuk pemantauan kehamilan maupun proses persalinan.
“Kalau memang di Kudus belum memungkinkan, ya dirujuk dari kita ke Rumah Sakit Semarang misalkan di RS Kariadi. Ini yang kita harapkan,” tambahnya.
Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, DKK Kudus juga berupaya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit. Pelatihan mengenai pencegahan kematian ibu dan bayi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
“Itu bisa menekan di situ. Karena bagaimanapun ujung tombaknya adalah di puskesmas maupun fasilitas kesehatan pertama. Ini kan untuk ANC atau antenatal care atau kontrol kehamilan. Ini kan memang harus dipantau,” terangnya.
DKK Kudus berharap penguatan layanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga medis, serta kesadaran ibu hamil untuk rutin menjalani ANC dapat menekan kasus kematian ibu dan bayi. Masyarakat juga diimbau tidak menunda pemeriksaan, terutama apabila terdapat faktor risiko atau keluhan selama kehamilan. (J05/A01)










