Jurnalpantura.id, Kudus – Kejuaraan Voli Pantai Kudus Open 2026 menjadi ajang penting bagi para atlet untuk mengukur kemampuan sebelum menghadapi Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2027.
Turnamen yang digelar di Lapangan IVOJO Kudus mulai Kamis (23/7/2026) hingga Minggu (26/7/2026) itu diikuti 45 tim dari enam provinsi di Indonesia serta satu tim tamu dari Malaysia.
Ketua Pelaksana Kejuaraan Kudus Open 2026, Achsin Rois, mengatakan kejuaraan tahun ini diikuti 29 tim putra dan 16 tim putri.
Awalnya terdapat 18 tim putri yang mendaftar, namun dua tim batal tampil karena kendala yang dialami atletnya.
“Satu tim dari Ciamis mengundurkan diri karena atletnya mengalami cedera, sedangkan tim PPOP Jawa Tengah tidak dapat mengikuti pertandingan karena salah satu atletnya terserang demam berdarah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, pertandingan kategori putra dibagi ke dalam delapan grup, sedangkan kategori putri terbagi dalam empat grup. Seluruh laga mengacu pada regulasi resmi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI), termasuk penggunaan sistem skor hingga 21 poin dan perpindahan sisi lapangan setiap kelipatan tujuh poin.
Mewakili Kapolres Kudus AKBP Heru Dwi Purnomo selaku Pembina PBVSI Kabupaten Kudus, Kabag Perencanaan Polres Kudus Kompol Roy Irawan menegaskan bahwa kejuaraan tersebut tidak hanya bertujuan mencari juara, tetapi juga menjadi wadah pembinaan karakter atlet melalui sportivitas dan kebersamaan.
“Junjung tinggi sportivitas. Menang jangan sombong dan kalah jangan berkecil hati. Tunjukkan kemampuan terbaik agar mampu mengharumkan nama daerah dan sekolah masing-masing,” pesannya saat membacakan sambutan Kapolres.
Sementara itu, Kepala Seksi Voli Pantai PP PBVSI, Slamet Mulyanto, menilai Kudus Open memiliki peran strategis sebagai ajang uji tanding bagi atlet-atlet daerah yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Kualifikasi PON 2027.
Menurutnya, kompetisi seperti ini sangat dibutuhkan agar atlet memperoleh pengalaman bertanding yang cukup sehingga mampu meningkatkan performa saat memasuki persaingan menuju PON.
“Daerah-daerah yang sedang menjalani program latihan membutuhkan kompetisi sebagai tolok ukur hasil pembinaan. Dari yang saya amati, proses regenerasi atlet juga berjalan baik. Bahkan ada sekitar lima atlet dengan tinggi badan di atas 190 sentimeter yang memiliki peluang besar berkembang hingga level tim nasional,” ujarnya.
Selain menyoroti kualitas atlet, Slamet juga berharap Pemerintah Kabupaten Kudus dapat meningkatkan fasilitas voli pantai. Menurutnya, kualitas pasir di Lapangan IVOJO sudah memenuhi standar, namun diperlukan tambahan lapangan beserta fasilitas pendukung agar mampu menggelar kejuaraan berskala nasional maupun internasional.
“Kalau Kudus memiliki sedikitnya empat lapangan yang dilengkapi lampu penerangan, peluang menjadi tuan rumah turnamen internasional sangat terbuka. Voli pantai tidak harus dimainkan di kawasan pantai, tetapi juga bisa digelar di tengah kota sehingga menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
Hal senada disampaikan perwakilan PBVSI Jawa Tengah, Harsoyo. Ia menilai voli pantai memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan tidak kalah menarik dibandingkan voli indoor.
Menurutnya, cabang olahraga tersebut juga berpeluang menjadi bagian dari pengembangan sport tourism yang mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Karena itu, Harsoyo berharap dukungan pemerintah di semua tingkatan, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten hingga KONI, terus diperkuat agar pembinaan atlet dan penyelenggaraan kejuaraan voli pantai dapat berlangsung secara berkesinambungan. (J02/A01)










