Jurnalpantura.id, Kudus – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudmus bakal menggelar sayembara desain batik untuk dijadikan pakaian dinas Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus.
Ketua Dekranasda Kudus, Endhah Endhayani, mengatakan lomba desain batik itu merupakan tindak lanjut arahan Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris. Selama ini, Pemkab Kudus belum memiliki motif batik khusus yang digunakan sebagai seragam resmi ASN.
Menurutnya, keberadaan batik khas ASN dinilai penting untuk memperkuat ciri daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal melalui motif batik yang memiliki karakter khas Kudus.
“Berdasarkan arahan bupati, Kabupaten Kudus belum punya batik khusus untuk ASN. Maka nanti akan diadakan lomba desain batik, dan pemenangnya akan dipakai sebagai seragam batik ASN,” ujarnya, Senin, 11/5/2026.
Ia menjelaskan, pelaksanaan sayembara sepenuhnya berada di bawah koordinasi Dekranasda Kudus. Saat ini panitia masih mematangkan berbagai persiapan teknis, mulai dari sistem pendaftaran peserta hingga mekanisme penjurian karya.
Endhah menuturkan, kompetisi tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi warga Kudus, melainkan terbuka untuk masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Informasi lomba nantinya akan dipublikasikan secara luas melalui media sosial agar menjangkau lebih banyak peserta.
Pendaftaran direncanakan dibuka mulai 1 Juni 2026 dan dilakukan secara daring melalui tautan yang akan diumumkan oleh panitia. Dekranasda berharap cara tersebut dapat mempermudah peserta dalam mengikuti perlombaan.
Ia menambahkan, lomba tersebut difokuskan untuk menjaring para desainer kreatif yang mampu menghadirkan motif batik bernuansa khas Kudus. Sebab, menurutnya kemampuan mendesain dan membatik merupakan dua hal yang berbeda.
“Pengrajin berbeda dengan desainer. Desainer belum tentu bisa membuat batik juga. Maka kami buka luas karena ingin menjaring para desainer, tetapi tetap dengan kriteria tertentu,” jelasnya.
Dalam sayembara itu, peserta diwajibkan memasukkan unsur khas Kudus ke dalam desain batik yang dibuat. Inspirasi motif dapat diambil dari berbagai ikon daerah seperti buah parijoto, Menara Kudus, tradisi masyarakat, desa wisata, kuliner khas, hingga flora dan fauna lokal.
“Kami menyiapkan hadiah sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta, karya pemenang juga akan dipatenkan dan berpeluang mendapatkan royalti,” tukasnya. (J05/A01)










