Jurnalpantura.id, Kudus – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ruang bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Kudus untuk menyampaikan aspirasi tentang kesetaraan.
Momentum kemerdekaan dimaknai lebih luas, yakni dengan memastikan setiap warga mendapatkan kesempatan yang sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal itu disampaikan Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Kudus, Rismawan Yulianto, seusai memimpin upacara pengibaran bendera di Balai Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Senin, 17/8/2026.
Ia menilai semangat kemerdekaan harus diikuti dengan terbukanya ruang-ruang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Menurut Rismawan, sejumlah persoalan masih dihadapi kelompok difabel, mulai dari akses pendidikan, kesempatan memperoleh pekerjaan, hingga penggunaan fasilitas publik.
Karena itu, peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa penyandang disabilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat.
Suasana upacara berlangsung khidmat ketika tiga penyandang disabilitas dengan kursi roda bersiap menjalankan tugas membawa baki Sang Saka Merah Putih.
Indriyati (46), bersama Rekto dan Suryoso, perlahan mengayuh kursi roda menuju tiang bendera setelah mendapat aba-aba dari pemimpin upacara.
Keterbatasan fisik tidak menyurutkan semangat peserta mengikuti rangkaian upacara. Anak-anak hingga orang dewasa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.
Mereka mengikuti upacara dengan penuh penghormatan, termasuk menyanyikan lagu kebangsaan bersama peserta lainnya.
Bagi Rismawan, keterlibatan penyandang disabilitas dalam upacara kemerdekaan memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, selama ini kesempatan bagi kelompok difabel untuk mengikuti kegiatan seremonial di ruang publik masih terbatas, baik karena diskriminasi maupun anggapan bahwa mereka harus dikasihani.
“Mereka tak pernah diajak mengikuti upacara bendera, entah karena diskriminasi atau dikasihani. Saya yakin mereka ingin merasakan bagaimana mengibarkan bendera merah putih, meskipun dengan kursi roda, tidak rapi, tetapi mereka khidmat melaksanakannya,” ujar Rismawan.
Ia berharap keterlibatan tersebut dapat membuka pandangan masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk berkontribusi dan beraktivitas secara mandiri.
Pemerintah juga didorong untuk menyediakan ruang yang lebih terbuka agar kelompok difabel dapat terlibat dalam berbagai kegiatan tanpa perlakuan berbeda.
“Teman disabilitas mampu, kami ingin pemerintah lebih terbuka, merangkul kami baik dalam kegiatan maupun ruang publik yang inklusif,” ungkapnya.
Selain upacara, peringatan kemerdekaan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari lomba tujuhbelasan hingga tabur bunga di makam pahlawan.
Lomba dibuat dengan konsep inklusif, seperti balap kelereng menggunakan kursi roda, memasukkan caping ke lubang, makan kerupuk, serta merias wajah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi penyandang disabilitas dalam mengisi kemerdekaan.
Sementara itu, Indriyati mengaku sempat gugup ketika mendapat tugas membawa baki bendera. Namun, perasaan tersebut berubah menjadi kebahagiaan karena ia dapat menjalankan tugas bersama rekan-rekan difabel.
“Kami harap ini bisa jadi upaya untuk menyuarakan kesetaraan dan berharap Kudus semakin inklusif, terutama dalam pekerjaan dan akses publik,” ucapnya. (J05/A01)










