Hingga Juni 2024, DKK Kudus Catat 36 Kasus AKB dan 2 Kasus AKI

- Jurnalis

Rabu, 17 Juli 2024 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto. (Foto:J05)

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto. (Foto:J05)

Jurnalpantura.id, Kudus – Pertengahan tahun 2024, Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mencatat ada sebanyak 36 kasus kematian bayi dan 2 kasus kematian ibu, dalam kurun waktu mulai Januari hingga Juni 2024.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat pada DKK Kudus, Nuryanto menyebut bahwa kasus angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) masih menjadi persoalan serius yang perlu ditangani secara gotong-royong.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh DKK Kudus, demi meminimalisir terjadi kematian ibu dan bayi. Utamanya, dengan menguatkan kerjasama berbagai pihak, antarprogram, lintas sektoral, dan lainnya.

“AKI kita kuatkan dari masih remaja dengan memberikan edukasi anak SMA, terus memberikan tablet tambah darah, dan melakukan screening awal bagi calon pengantin,” kata Nuryanto, Rabu 17/07/2024.

Kasus kematian ibu yang terjadi di Kudus, lanjut Nuryanto, mayoritas terjadi saat sudah masuk penanganan di rumah sakit. Artinya, kondisi calon ibu memang sudah kritis.

“Biasanya itu sudah terjadi pendarahan, eklamasi, penyakit bawaan. Jadi memang sudah penanganan akhir di rumah sakit,” ujarnya.

Baca Juga :  UMK Jadi PTP Program Praktisi Mengajar Angkatan 4 Tahun 2024

Sedangkan untuk kasus kematian bayi, imbuh Nuryanto, mayoritas terjadi karena faktor berat badan lahir rendah (BBLR) hingga lahir prematur di bawah usia kehamilan 37 minggu.

“Faktor lainnya juga karena ibu di Kudus itu banyak yang pekerja yang kadang ada masalah di rumah di tempat kerja, itu juga sangat mempengaruhi,” tuturnya.

Nuryanto pun menekankan agara para calon ibu bisa tertib dalam melakukan Antenatal care (ANC) atau pemeriksaan kehamilan di masing-masing puskesmas.

“Sekarang ANC dilakukan enam kali, semua puskesmas juga sudah ada USG dan ada tenaga medis yang berkompeten. Saat ini bahkan USG dua kali di puskesmas,” tukasnya.

Lebih lanjut, Nuryanto menambahkan bahwa kasus kematian bayi yang terjadi pada tahun 2023, ada sebanyak 125 bayi. Sedangkan, kasus kematian ibu tercatat sebanyak 11 kasus. (J05/A01)

Berita Terkait

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September
Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan
Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan
Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas
Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026
BPJS Kesehatan Dorong Transformasi Layanan Jantung Berbasis Outcome
Investasi RSUD Sunan Muria Kudus Diproyeksikan Rp 250 Miliar, Dua Investor Nyatakan Minat
Tekan Angka Kematian Ibu, DKK Kudus Gandeng PKK Luncurkan Kencan Bumil dan Parijata
Berita ini 134 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 15:59 WIB

IGD RSUD Kudus Makin Padat, Kasus Infeksi Meningkat sejak Awal September

Rabu, 23 September 2026 - 11:58 WIB

Kasus ISPA Meningkat di Tengah Cuaca Ekstrem, DKK Kudus Ingatkan Pentingnya Cukupi Cairan

Selasa, 22 September 2026 - 16:14 WIB

Seleksi Nakes Teladan 2026, DKK Kudus Turunkan Tim Verifikasi Lapangan

Selasa, 22 September 2026 - 15:13 WIB

Dua Remaja di Kudus Ditemukan Terpapar HIV, KPA Soroti Gaya Hidup Seks Bebas

Selasa, 22 September 2026 - 13:57 WIB

Didominasi Faktor Risiko LSL, 108 Kasus HIV Ditemukan di Kudus Selama Pertengahan 2026

Berita Terbaru