Hari Santri Merupakan Penghargaan Negara Kepada Para Santri

Event462 Dilihat

Jurnalpantura.id,Kudus – Sebagai umat Islam, harusnya patut berbangga karena Hari Santri Nasional merupakan sebuah penghargaan untuk para santri.

Hal tersebut disampaikan oleh bupati Kudus dalam sambutannya, “Para santri patut berbangga karena ada peringatan Hari Santri Nasional,” ungkapnya.

Upacara Hari Santri Nasional di Kudus berlangsung khidmad dan semarak. Bupati Kudus H.M. Tamzil yang menjadi inspektur upacara menjadikan suasana upacara semakin sejuk. Hadir pada kesempatan tersebut wakil bupati Kudus, Sekda Kudus, Dandim 0722/Kudus, Kapolres Kudus, Ketua DPRD Kudus dan pimpinan OPD Kudus.

Sebagai umat Islam, harusnya patut berbangga karena Hari Santri Nasional merupakan sebuah penghargaan untuk para santri. Hal tersebut dikatakan bupati Kudus dalam sambutannya, “Para santri patut berbangga karena ada peringatan Hari Santri Nasional,” ungkapnya. Senin 22/10/2018.

Mengingat sejarah masa lalu dalam upaya kemerdekaan bangsa Indonesia, H.M. Tamzil berujar bahwa peran kiai dan santri tak bisa dinafikkan. Hal tersebut terbukti bahwa pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, para kiai dan santri tak hanya mementingkan golongannya semata tetapi juga memikirkan cinta tanah air.

“Sejarah resolusi jihad membuktikan bahwa para kiai dan santri tak hanya memikirkan pondoknya saja tetapi juga bangsa dan negaranya,” imbuhnya.

Bagi bupati Kudus, santri masa kini tidak hanya dimaknai sebagai orang yang belahar di pondok pesantren saja tetapi juga memiliki pikiran terbuka dan mampu menyebar perdamaian, ” Santri masa kini harus berpikiran terbuka dan menyebar agama Islam sebagai agama kedamaian dalam mewujudkan Indonesia rahmatan lil alamin,” ujar bupati.

Peserta Upacara Hari Santri Nasional berfoto bersama forkopimda Kudus (Foto : Aik)

Terakhir, sebagai masyarakat Kudus yang memiliki ajaran Gusjigang (Bagus, Ngaji dan Dagang) yang disebarkan oleh Sunan Kudus, maka para santri diharapkan mampu mempraktikkan filosofi tersebut di masa sekarang maupun masa mendatang.

“Bagus artinya kita memiliki sikap dan sifat yang halus dan baik, Ngaji artinya tidak hanya mengaji al Quran tetapi juga punya semangat belajar dan berpikiran terbuka dan dagang menjadi simbol untuk masyarakat Kudus agar mampu berusaha dan berwirausaha,” tutup bupati. (J02/A01)

Komentar