Jurnalpantura.id, Kudus – Sebagai negara dengan dua musim dan memiliki 300 patahan lempeng menyebar di seluruh wilayah, Indonesia menjadi salah satu negara dengan resiko bencana tinggi.
Musibah tak hanya datang dari alam saja, seperti bencana alam baik itu banjir, tanah longsor dan tsunami. Namun di masa milenial seperti saat ini ada bencana yang hampir dua tahun menyerang bangsa di dunia, yaitu Covid-19.
Untuk itu, masyarakat khususnya warga Muhammadiyah diajak selalu bergotong royong, saling tolong menolong dan bekerjasama dalam melakukan kebaikan.
Ajakan tersebut diungkapkan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Abdul Mu’ti saat menjadi pembicara dalam acara Gerakan Nasional Revolusi Mental kerjasama Kementerian PMK dan Pemuda Muhammadiyah Kudus, di Hotel Griptha Kudus, Jumat 19/11/2021 malam.

Abdul Mu’ti menjelaskan, saat ini masyarakat harus lebih menyiapkan diri bagaimana bisa saling membantu, saling tolong menolong, gotong royong dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang sudah berjalan selama dua tahun hingga kini belum berakhir, apalagi kemungkinan datangnya Covid-19 gelombang ke tiga.
“Terutama kemungkinan terjadinya gelombang ke tiga, yang di prediksi sekrang terjadi juga di Eropa,” jelasnya.
Menurutnya, masyarakat sendiri sudah memiliki pengalaman selama dua tahun menghadapi pandemi Covid-19.
Segala sesuatunya baik mental, Iman, peralatan medis hingga logistik harus dipersiapkan kembali dengan matang untuk menghadapi kemungkinan gelombang tiga itu.
“Sehingga ketika pandemi (gelombang tiga Covid-19,red) benar terjadi, masyarakat sudah siap. Tidak gugup lagi,” ucapnya.
Pihaknya juga berpesan agar masyarakat tidak terlena dengan kondisi pandemi yang kini sudah melandai. Protokol kesehatan, menurutnya juga harus dimaksimalkan.
“Dengan disiplin memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan mengurangi aktifitas yang tidak perlu dilakukan itu sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,”ujarnya.(J02/A01)










