Jurnalpantura.id, Kudus – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus mengungkapkan sebanyak 31 orang dinyatakan positif mengidap penyakit campak berdasarkan hasil tes laboratorium di Yogyakarta.
Temuan ini menjadi perhatian serius, mengingat kasus campak tengah menjadi isu hangat di Indonesia.
Sekretaris DKK Kudus, Nuryanto, menjelaskan bahwa deteksi penyakit campak dilakukan dengan mengirimkan 464 sampel untuk diperiksa di Laboratorium Yogyakarta. Dari jumlah tersebut, 31 sampel dinyatakan positif campak.
“Meskipun di Kudus kasusnya ada, tapi hingga saat ini belum ada kasus kematian akibat campak,” ujar Nuryanto, Kamis, 2/4/2026.
Melihat adanya kasus positif, DKK Kudus pun meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi campak pada anak. Imunisasi ini termasuk dalam program dasar yang diberikan secara gratis untuk anak usia 12–14 bulan.
Nuryanto menekankan pentingnya peran orangtua dalam mengikuti posyandu agar anak-anak bisa mendapatkan imunisasi.
“Kami meminta agar orangtua aktif membawa anak ke posyandu, sehingga imunisasi dapat diberikan tepat waktu,” ujarnya.
Selain imunisasi, Dinas Kesehatan juga mendorong masyarakat menjaga daya tahan tubuh melalui olahraga, pola makan bergizi, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Menurut Nuryanto, meski kasus campak pada dewasa di atas 12 tahun masih sedikit, kewaspadaan tetap harus dijaga.
Campak merupakan penyakit infeksi virus saluran pernapasan yang sangat menular, ditandai dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam merah di tubuh.
“Untuk masyarakat yang mengalami gejala tersebut segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, beristirahat cukup, minum air yang cukup, dan mengonsumsi suplemen,” tukasnya. (J05/A01)










