Jurnalpantura.id, Kudus – Alunan musik Republik Kanzu serta Pemujaku, puluhan penikmat seni peran tampak hanyut dalam alunan musik sebagai pembuka Komunitas Seni Samar melalui teater A Vague Story of Rananggana, Bregada Merudhanda yang dipentaskan di Auditorium UMK, Rabu 06/03/2019 malam.

Ditulis oleh Leo Katarsis serta disutradai Ahmad ‘Mophet’ Safrudin, pertunjukan dimulai saat dua wanita membacakan prolog dari cerita.
Kisah Bregada Merudhanda sejatinya merupakan kisah dari Bregada Manyura yang merupakan pasukan pilihan Medhang Bumi Mataram pengabdi setia Ratu Sanjaya. Mereka dipimpin oleh Hang Anggana, seorang panglima digdaya, sepupu Ratu Sanjaya.
Singkat cerita, Anggana diperintahkan oleh Sanjaya untuk menumpas habis Kerajaan Sunda Galuh saat terdengar kabar jika raja kerajaan tersebut berencana untuk memberontak.
Tanpa diduga, istana Medhang diserbu pasukan Sriwijaya. Usai memadamkan pemberontakan, Anggana dan pasukannya bergegas kembali ke Medhang. Prajurit Sriwijaya berhasil dipukul mundur dan digiring menuju Selat Muria. Kapal-kapal mereka dibakar dan ditenggelamkan.
Akan tetapi, kemenangan Anggana dan pasukannya menjadi tidak berarti karena ternyata Ratu Sanjaya gugur dalam penyerbuan pasukan Sriwijaya. Anggana sangat berduka. Dia kehilangan saudara, sahabat dan tujuan pengabdiannya.
Anggana kemudian meninggalkan kerajaan Medhang dan kembali ke tanah muria. ia menjalani kemudian menjalani hidup selanjutnya sebagai orang biasa dan pasukannya menyebar dari Tanjung Para sampai Teluk Silunggangga untuk menjaga tanah muria yang dikenal dengan nama Rananggana. Upacara Merudhandha dilaksanakan tiap tahunnya untuk mengenang peristiwa tersebut.
Terkait pementasan, Gunadi, Ketua Paguyuban Seni Samar menjelaskan jika pertunjukan ini diperuntukkan secara spesial bagi ‘sang badut’, Mauli Akbar.
“Persoalan teater adalah tentang karakter manusia yang tidak bisa dirinci,” ujarnya.
Sementara, Ineke, salah seorang penonton mengaku terbawa cerita saat menyaksikan pementasan tersebut.
“Teater komplit yang menarik,” tandasnya.
Alur menarik serta irama yang menyatu dengan peran lakon jadi magnet tersendiri bagi dirinya untuk menonton sampai akhir pertunjukan. (J16/A02)










