Jurnalpantura.id, Kudus – Raut wajah Ayu, senyum manis menghiasi bibirnya.
Adzan Subuh baru berkumandang, namun Cah Ayu ICA, sapaan akrab Quinsa Safira Arifianingsih (10) menorehkan semangat dalam hatinya dengan penuh keyakinan.
ICA adalah seorang siswi kelas 5 SD 2 Besito di Kecamatan Gebog, yang mewakili sekolahnya dalam lomba pidato Bahasa Jawa tanpa teks/Sesorah.
Penampilannya dalam ajang FTBI ( Festival Tunas Bahasa Ibu ) SD Tingkat Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, pada hari Rabu, 17 September 2025 adalah yang kedua kalinya.
Sebelumnya setahun lalu, dia pernah mengikuti lomba yang sama, di tempat yang sama pula di SD 1 Menawan.
Untuk mengasah kemampuannya, ICA dilatih dan dibimbing langsung oleh Tentor Les Privat Lomba di sebuah Bimbingan Belajar didesa Besito.
ICA telah fokus berlatih secara kontinyu, di Bimbel Bu Neny_Asiek bersama seorang Tentor Les Privat, yang pernah menjadi Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Jawa tingkat SMA di Kudus, pada masanya.
“Waktu latihan terbilang relatif sangat singkat. Hanya diberikan waktu beberapa hari saja untuk berlatih. Sesorah tanpa teks ternasuk lomba pidato yang levelnya tinggi, untuk anak SD generasi alpha premiun seusianya. Namun semangat Gadis Cilik ini dalam berproses latihan tak pernah surut,” kata Eni Setyaningsih, Pelatih Lomba sekaligus Bundanya.
Berbagai persiapan sebelum lomba telah dilakukannya, diantaranya, membuat naskah lomba dengan bimbingan Pelatih. Latihan menghafal naskah disertai intonasi, ekspresi, jeda kalimat, dan penghayatan.
Beberapa hari sebelum lomba , ICA sudah fitting baju ke Salon. ICA juga minta ke Ibundanya dibelikan peralatan makeup, karena dia punya keahlian dandan merias wajahnya sendiri, untuk menunjang aksi panggungnya saat lomba .
Segala upaya maksimal telah dilakukan. Latihan secara kontinyu, sepulang sekolah dari siang sampai malam. Bahkan sesaat sebelum maju lomba, di seputaran lokasi Ica masih giat berlatih .
Kemampuannya berpidato sungguh luar biasa. Tepuk riuh 3 orang Dewan Juri senyuman hangat, serta acungan jempol para hadirin, turut menyaksikan aksi panggungnya, menjadi bukti nyata, betapa bagusnya performenya.
ICA peserta lomba pidato sesorah Putri dengan nomor urut tampil 16, telah sukses membawakan pidato bahasa Jawa tanpa teks dengan tema “TEPA SLIRA SARANA NGGAYUH KATENTREMAN” dengan lancar, penuh pesona.
Suaranya bagus, artikulasinya jelas, ekspresinya dapat, gaya pidatonya komunikatif, dan percaya diri.
Ica tampil tidak hanya sekedar hafal teks pidato saja, tapi penuh dengan penghatayan. Pidatonya terasa manis dan menggetarkan semua hadirin. Apalagi ada tambahan nembang dengan suaranya yang merdu, dan parikan sebagai pemanis pidatonya.
Wajah Guru Pendamping tampak sumringah, binar tatapan haru dan bahagia menyelimuti hati Bapak Kepala Sekolah yang turut menyaksikan secara langsung.
Sorot mata bahagia dan dukungan dari Bapak/Ibu Guru yang melihat rekaman videonya , membuat hatinya berbunga-bunga.
Bahkan Wali Kelasnya sampai optimis berani memberikan hadiah bila Ica menang lomba.
Siang itu, langkahnya penuh semangat pulang dari arena perlombaan. Dengan penuh optomis menunggu hasil keputusan Dewan Juri siapa pemenangnya.
Namun ternyata, harapannya pupus. Saat sore harinya mengetahui bahwa dirinya kalah. Rasa kecewa, sedih, jengkel, terlihat di raut wajahnya yang sayu. Namun itu hanya sesaat saja.
“Tak apa aku tak menang ,tapi aku sudah bisa buktikan bisa tampil sesorah dengan lancar dari awal sampai akhir. Aku melihat sendiri banyak peserta yang ditegah tengah mandeg gak hafal dan gagal tampil bagus.b Sekarang lomba sudah selesai.Aku mau fokus lagi sekolah,” kata Ica dengan rasa Sportifitas tinggi.
Sebagaimana diketahui, Ajang lomba FTBI adalah gelaran tahunan dari Dinas Disdikpora Kudus yag sudah dilaksanakan sejak 2008. Sebagai langkah melestarikan budaya Jawa.
Ada beberapa cabang yang dilombakan yaitu lomba cerita cekak, dagel ijin, geguritan, nulis aksara jawa, macapat, serta geguritan.
Berdasarkan data panitia lomba sesorah ini diikuti 9 peserta laki-laki dan 18 peserta perempuan. Ajang FTBI 2025 tingkat kecamatan Gebog telah menjadi saksi, di Kudus telah lahir “Sang Juara Sejati dengan Sportifitas Tinggi”.
“Legowo Kalah. Menghormati keputusan Dewan Juri. Tetap rendah hati. Terus semangat gapai mimpi,” tambahnya.
Ica percaya bahwa luka ini adalah pengalaman berharga dan menjadi sumber kekuatan untuk tampil lebih baik lagi ke depannya.
Tak mudah membentuk mental siap menang atau legowo sebagai juara sejati sejak kecil. Namun Ica selalu percaya bahwa Kemenangan Sejati Lahir dari Sportifitas Tinggi dalam setiap Kompetisi. ***










