Jurnalpantura.id, Kudus – Bupati Kudus Samani Intakoris meminta para bidan di Kabupaten Kudus untuk terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat.
Peran tersebut dinilai sangat penting, terutama dalam mendukung program pencegahan stunting serta menekan angka kematian ibu dan anak.
Hal itu disampaikan Samani saat menghadiri Seminar Hari Bidan Sedunia 2026 sekaligus peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu, 15/7/2026.
Ia menilai keberadaan bidan menjadi salah satu kunci keberhasilan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Menurut Samani, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai sejak masa kehamilan.
Pemeriksaan kesehatan ibu hamil secara rutin di fasilitas kesehatan seperti puskesmas maupun rumah sakit menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi ibu dan bayi tetap terpantau.
”Upaya ini dilakukan agar saat ibu melahirkan, anak tidak mengalami stunting. Termasuk juga menurunkan angka kematian ibu dan anak yang menjadi target pemerintah daerah,” kata Samani.
Ia menyebut angka prevalensi stunting di Kabupaten Kudus mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari sebelumnya berada di kisaran 15 persen, kini angka tersebut turun menjadi 3,67 persen.
Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan angka itu dapat terus ditekan hingga mencapai nol kasus.
”Alhamdulillah stunting kita sekarang tinggal 3,67 persen. Dulu sekitar 15 persen. Ke depan kita dorong terus agar bisa menuju zero stunting di Kabupaten Kudus,” ujarnya.
Samani menegaskan peningkatan derajat kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Ia memberikan apresiasi kepada para bidan yang selama ini telah memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik melalui fasilitas kesehatan milik pemerintah maupun praktik mandiri.
”Bidan-bidan ini garda terdepan untuk melayani masyarakat. Kami ucapkan selamat bertugas kepada bidan-bidan di mana pun berada, baik di pemerintahan maupun swasta karena semuanya berkontribusi dalam kesehatan ibu hamil, anak-anak maupun program kesehatan lainnya,” tuturnya.
Ia juga meminta para bidan terus memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dan rumah sakit rujukan agar kualitas pelayanan semakin meningkat.
Menurutnya, lulusan kebidanan juga tidak perlu ragu mengabdi di wilayah pedesaan maupun daerah terpencil karena setiap bentuk pelayanan memiliki nilai yang sama.
”Nanti kalau mendapatkan penugasan di desa terpencil jangan sedih. Semua pengabdian itu sama, justru di sana ada tantangan-tantangan khusus yang membutuhkan kehadiran tenaga kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Ketua IBI Cabang Kudus Darini menyampaikan bahwa bidan memiliki peran strategis dalam mendampingi kesehatan perempuan sejak sebelum kehamilan, masa kehamilan, hingga proses persalinan.
Menurutnya, pencegahan stunting harus dipersiapkan sejak dini, bukan hanya setelah bayi lahir.
”Stunting itu jangan dicegah ketika bayinya sudah lahir, tetapi harus direncanakan sejak sebelum hamil bahkan sejak usia remaja,” ujar Darini.
Peringatan HUT ke-75 IBI tahun ini mengangkat tema One Million More Midwives, yang menekankan kebutuhan dunia terhadap tambahan lebih dari satu juta tenaga bidan untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Saat ini, IBI Cabang Kudus memiliki sekitar 960 anggota aktif yang tersebar di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Kudus. (J05/A01)










