Jurnalpantura.id, Jepara – Perayaan syawalan atau pesta lomban sebagai tradisi sepekan setelah lebaran di Kabupaten Jepara yang menyedot ratusan ribu pengunjung ditiadakan. Kegiatan ini hanya menyisakan ritual pelarungan kepala kerbau dengan jumlah peserta yang sangat terbatas.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jepara, Zamroni Lestiaza, Senin 25/05/2020 mengatakan pekan syawalan tahun ini ditiadakan. Sebab untuk mengantisipasi penyebaran virus korona, ada larangan untuk membuat even yang bisa menimbulkan kerumunan warga. “Ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus korona di Jepara,” kata dia.
Hingga saat ini, semua tempat wisata di Kabupaten Jepara masih ditutup. Biasanya Pantai Kartini, Bandengan, hingga Benteng Portugis selalu dipadati pengunjung usai lebaran hingga sepekan.
Untuk ritual pelarungan kepala kerbau, diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintahan Kelurahan Ujungbatu dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara.
Sementara Ketua HNSI Jepara Suyatno membenarkan adanya kebijakan tersebut. “Kami sudah membicarakan hal itu dengan Lurah Ujungbatu, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat,” kata dia.
Karena larungan kepala kerbau ini merupakan ritual budaya yang menyangkut keyakinan para nelayan dan warga setempat, maka tetap diadakan. Hanya bentuknya sangat sederhana dan terbatas.
Sedangkan Lurah Ujungbatu, Anjar Jambore Widodo mengatakan akan adakan pertemuan kembali. Sebab usulan warga dan nelayan, pelarungan kepala kerbau dan doa tetap diadakan walaupun jumlahnya sangat dibatasi. Bahkan untuk ziarah ke makam Mbah Ronggo maksimal hanya diikuti loleh 7 orang. “Demikian juga pelarungan kepala kerbau. Sedangkan daging kerbau akan dibagi secara merata di 16 RT,” ujar Anjar.
Pekan Syawalan ini biasanya berlangsung selama 6 hari setelah Idul Fitri dan puncaknya pada tanggal 8 Syawal dilakukan pelarungan kepala kerbau. Ritual budaya yang kemudian dikenal dengan nama Lomban ini berlangsung lebih satu setengah abad ini diawali dengan proses pelarungan kepala kerbau beserta sesaji yang melengkapinya setelah sebelumnya ada doa ucapan syukur di TPI Ujungbatu.
Ritual ini sebagai ucapan syukur nelayan Jepara kepada Sang Pencipta atas rejeki dan keselamatan yang diberikan selama satu tahun kepada mereka hingga hasil tangkapan ikan melimpah. Sebelum prosesi pelarungan, biasanya ada ziarah ke makam Mbah Ronggo yang ada di serta pagelaran wayang kulit di TPI Ujungbatu.
Setiap tahun, even budaya ini sangat ditunggu oleh warga masyarakat di Jepara. Mereka tidak akan melakukan aktifitas kerja sebelum Pesta Lomban selesai. Bahkan mereka yang berada di perantauan rela untuk meluangkan waktunya hanya sekedar datang menyaksikan keramaian di Jepara. (Dinas Kominfo Jepara/A02)










