Jurnalpantura.id, Kudus – Ribuan warga Kudus berbondong-bondong mendatangi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus untuk menyaksikan acara tahunan sebagai pertanda dimulainya Puasa Ramadhan.
Iring-iringan terbang papat dan tari Gusjigang dari Sanggar Tari Puring Sari, menjadi sebuah sajian pembuka yang apik.
Dilanjutkan dengan sajian teatrikal Visualisasi Dandhangan yang diperagakan oleh teater Jangkar Bumi dan Ligan Culture Comunnity. Seolah membawa masyarakat ke dalam kemeriahan tradisi dandhangan di masa lampau.
Plt Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Rahmah Hariyanti dalam sambutannya mengegaskan tradisi dandangan sudah menjadi bagian jati diri masyarakat Kudus. Melalui tradisi ini masyarakat kota kretek mengekspresikan kegembiraannya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Secara singkat Rahmah menceritakan, tradisi dandhangan bermula dari kebiasaan masyarakat di masa Sunan Kudus. Dimana setiap menjelang bulan Ramadhan, masyarakat dari berbagai penjuru berkumpul di Masjid Menara untuk menyaksikan pemukulan beduk oleh Sunan Kudus.
Suara tabuhan beduk yang bernadakan dhang-dhang-dhang inilah yang kemudian dinamakan Dandhangan. Dan kini berkembang menjadi sebuh tradisi yang begitu lekat dengan masyarakat Kudus setiap kali bulan puasa tiba.
“Jika pada zaman kasunanan, masyarakat berkumpul di Menara untuk menyaksikan pemukulan beduk oleh Sunan Kudus. Berkembangnya zaman, kini budaya tersebut terus kita pelihara melalui sajian kegiatan visualisasi dandhangan ini,” jelasnya.
Imbuhnya, “Marilah tradisi yang sudah ada ini kita jaga dan lestarikan dengan baik,”
Bupati Kudus, HM Tamzil yang hadir dalam kesempatan tersebut mengajak masyarakat untuk berbahagia menyambut datangnya bulan ramadhan.
“Melalui rasa suka cita yang kita ekspresikan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan ini. Semoga masalah-masalah kita bisa diselesaikan oleh Allah SWT. Serta bisa diberi kekutan untuk menjalankan ibadah di bulan ramadhan,” pungkas dia.
Di akhir acara Bupati Kudus Muhammad Tamzil didampingi Muspida Kudus berkesempatan menabuh bedug sebagai pertanda berakhirnya tradisi Dandangan dan keesokan harinya dimulainya Puasa Ramadhan. (J12/A02)










