PG Rendeng Diserbu Ratusan Truk Tebu Luar Kota, APTRI Prioritaskan Petani Lokal

Uncategorized126 Dilihat

Jurnalpantura.Com, Kudus – Kemacetan panjang yang terjadi di Jalan Mejobo yang terjadi mulai kemarin hingga pagi tadi mulai dikeluhkan warga. Kemacetan yang terjadi karena antrian panjang truk pengangkut tebu memadati jalan mulai Jln Mejobo,Jln sebelah barat kantor Samsat Kudus ke utara hingga pabrik Gula Rendeng Kudus.

Santoso salah satu pengguna jalan menyampaikan, ”Antrean jajaran truk-truk diesel pengangkut padi ini sudah lama tak terjadi di jalan ini, tahun-tahun dulu memang pernah seperti ini, tapi tak juga separah yang ini” ceritanya, Sabtu 09/06/2018.

Sementara itu, Asri Budi Utomo, Litbang DPC  Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Rendeng Kudus, saat di temui di kantor sekretariatnya menyatakan, antrean panjang truk tebu karena ada kendala di bagian mesin cooling Tower PG Trangkil Pati.

“Pasokan tebu tak bisa masuk ke pabrik tersebut, para petani kemudian melarikan muatan tebunya ke PG Rendeng Kudus yang menyebabkan konsentrasi truk-truk pengangkut tebu menumpuk di Kudus yang juga bercampur dengan petani lokal (Binaan PG Rendeng) yang biasa berkirim di Kudus,” katanya, Sabtu 09/06/2018.

”Kami sendiri sudah berbicara dengan manajemen PG Rendeng  tentunya untuk memberikan prioritas pertama kepada para petani local yang sudah menjadi binaan kami untu memperoleh kontrak dan nomor PIN melakukan penimbangan terlebih dahulu di PG Rendeng, baru setelah itu mereka, para petani diluar binaan APTRI PG Rendeng,” katanya.

Disinggung mengenai penetrasi truk-truk tebu dari luar kota Kudus ke kawasan PG Rendeng Kudus sehingga mengganggu dan menambah kemacetan jalanan di Kudus, Asri menjelaskan, ini bukan kesalahan manajemen PG Rendeng.

“Pihak PG Rendeng sendiri juga tak menyangka akan kedatangan truk-truk tebu dari luar kota, dan ini bukan menyangkut surat perintah tebang dan angkut (SPTA) tebu yang terlalu banyak dari PG Trangkil tapi memamng ada kerusakan mesian, terang dia.
Sebelum bisa memasok tebunya ke PG Rendeng kan mereka harus mengurus surat kontrak yang tidak bisa serta merta, karena mereka harus mengikuti prosedur kita dahulu PG punya aturan, kami juga punya aturan.

“Aturannya adalah mengikuti kesepakatan sebelum giling adanya potongan beaya karung dan sebagainya, bisa saja mereka masuk dengan nomor kontrak petani binaan, tapi kami kan punya kuota, misal kuota per hari 25 ribu ton maka kami bisa menolak bila sudah melebihi kuota tersebut,” terangnya.

Asri tak menampik bahwa PG Rendeng kemungkinan besar akan menerima semua muatan dari truk-truk pengangkut tebu yang biasanya bukan menjadi supliyer PG Rendeng, karena tebu itu dalam 36 jam dinyatakan rusak.
“Jadi kasihan juga para petani tebu itu bila tebunya tak tertampung di PG Rendeng,” ungkapnya.

Sementara itu Sutarno (38) sopir truk tebu asal Desa Jadi Sumber Rembang, mengaku dirinya sudah mengantre sejak kemarin sore, mengetahui mesin PG Trangkil Pati, sedang rusak, sebelum ke PG Rendeng dirinya sempat mebawa tebunya ke PG Pakis Tayu Pati namun dia ragu dengan kapasitas muat pabrik Gula tersebut lalu memutuskan membawa Ke PG Rendeng. (J02 /A01)

Komentar