oleh

Peringati HUT ke-2, KBPW Adakan Festival Pager Mangkok

Jurnalpantura.id, Kudus – Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan (KBPW) Kudus akan menggelar Festival Pager Mangkok dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-2. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari, mulai 25-27 November 22 di Dukuh Piji Wetan Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Festival Pager Mangkok digelar dengan mengambil dua falsafah hidup Sunan Muria. Terdiri dari, tapangeli dan pager mangkok, KBPW ingin menunjukkan pentingnya bersedekah bagi masyarakat luas.

Festival Pager Mangkok menjadi agenda tahunan yang diinisiasi oleh KBPW untuk menumbuhkan kembali ghirah atau semangat bersedekah di masyarakat.

Koordinator Komunitas Kampung Budaya Piji Wetan Kudus, Muchamad Zaini menuturkan, serangkaian agenda akan digelar untuk memeriahkan Festival Pager Mangkok kedua ini. Mulai dari kirab dan ritual doa pager mangkok di Punden Depok sebagai agenda inti Festival Pager Mangkok.

Tak hanya itu, juga ada pameran seni baik Kaligrafi, art print, lukisan hingga instalasi. Lebih dari 17 kelompok seni akan menampilkan pertunjukan seni di FPM #2, 16 tenant akan memamerkan produk-produk UMKM lokal dari Kecamatan Dawe dan sekitarnya.

“Untuk pengembangan kebudayaan berbasis desa, akan diadakan Workshop kebudayaan dengan tema Satgas Adat Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat,” ujarnya, Rabu (23/11/2022).

Kemudian, sebagai puncak acara Festival Pager Mangkok, akan ada pengajian akbar yang diharapkan akan membawa berkah dan doa baik di peringatan ulang tahun KBPW kedua ini.

Zaini berharap dengan adanya Festival Pager Mangkok #2 ini, masyarakat kembali menghidupkan makna bersedekah. Sehingga, lanjutnya, konsep Jogo Tonggo yang disampaikan oleh Gubernur Jawa Tengah benar-benar terlaksana dengan baik.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelenggaraan festival pager mangkok nantinya,” ucap laki-laki yang akrab disapa Jessy Segitiga itu.

Dirinya menambahkan, sudah saatnya masyarakat, generasi muda, pegiat seni dan lainnya yang menjadi subjek atau penggerak dalam pemajuan kebudayaan desa.

“Ini hari masyarakat perlu sadar bahwa banyak program yang bisa dilakukan untuk memajukan kebudayaan desa, masyarakat harus menjadi subjek, bukan lagi objeknya,” kata dia. (J05/A01)

Komentar