Kadispertanpangan dan Akar Tani Makmur Kampanyekan Pertanian Organik

Event, Pertanian813 Dilihat

Jurnalpantura.id, Kudus – Menindaklanjuti hasil diskusi tentang pertanian organik di rumah dongeng desa Purworejo Kecamatan Bae milik Hasan Aoni beberapa waktu lalu, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yang dipimpin Catur Sulistiyanto S.Sos MM langsung bergerak melakukan aksi. Yakni dengan menggelar program pelatihan petani di sembilan kecamatan di wilayah Kabupaten Kudus. Sebagai tempat pertama yaitu BPP Kecamatan Jekulo, Rabu 12/09/2018.

Hadir mendampingi dalam acara yang dibuka langsung oleh Kadispertanpangan Kudus, Catur Sulistiyanto adalah Wahyudi, Kasubag Pelaporan dan Perencanaan pada Dispertanpangan Kudus Budiono dari KJF, Andika Wardana dan Tukimin dari tim Akar Tani Makmur serta Yeman Subeno, praktisi tanaman organik dari Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur.

Catur Sulistiyanto, Kadispertanpangan Kudus, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa ini merupakan implementasi dari hasil diskusi dengan para praktisi tanaman/pangan organik. Sebab pertanian organik diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani karena harganya relatif lebih tinggi dibandingkan pertanian biasa atau menggunakan pupuk kimia.

“Petani mendapatkan pupuk kimia bersubsidi sekarang diatur dengan kartu tani. Banyak yang protes, sebab biasanya mereka bisa mendapatkan pupuk sampai satu setengah ton tetapi setelah ada kartu tani hanya mendapat kuota setengah ton. Apabila nanti banyak petani beralih menggunakan pupuk organik tentu tidak ada lagi keluhan kuota pupuk kimia,”terang Catur Sulistiyanto.

Andika Wardana, perwakilan tim poktan Akar Tani Makmur (ATM) Desa Purworejo Kecamatan Bae saat menyampaikan perkenalan tentang pertanian organik (Foto : istimewa)

Guna membuka wawasan tentang pertanian organik, sambungnya, pihak Dinas Pertanian dan Pangan Kudus menggandeng tim Akar Tanik Makmur (ATM) untuk menyampaikan teknis tindakan pada para petani yang menjadi peserta pelatihan.

“Tanah pertanian kita semakin tinggi kerusakannya karena penggunaan pupuk kimia. Akibatnya hasil panen jadi menurun. Sehingga pendapatan petani makin berkurang. Sekali lagi, kami mengharapkan dengan pertanian organik ini bisa meningkatkan pendapatan petani dan juga mengajak petani tidak lagi bergantung pada pupuk kimia sintetis,”tandasnya.

Andika Wardana, anggota tim Akar Tani Makmur, menambahkan bahwa menjadi petani merupakan tindakan yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika hijrah ke Madinah.

“Rosul ketika hijrah, yang diperintahkan pada pengikutnya adalah pertama membangun masjid dan yang kedua menanam tanaman sebagai sumber pangan. Jadi menjadi petani juga ajaran dari Rosulalloh,”ujar Andika Wardana yang akrab dipanggil Dewa itu.

Lebihlanjut Dewa mengungkapkan bahwa ajakan pada petani untuk menghasilkan pertanian organik adalah untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab model pertanian lama membuat lahan pertanian produktifitasnya makin turun, kualitas panen turun serta membuat lingkungan makin buruk.

Namun dengan kembali ke alam atau organik maka akan membuat kondisi tanah menjadi baik kembali. Dicontohkan pada hasil pertanian kelompok Akar Tani Makmur. Saat ini harga beras organik dari kelompoknya Rp 25 ribu perkilogram. Dalam satu minggu kebutuhan jaringan pasar yang dipasoknya mencapai 500 kilogram. Namun karena masih sedikitnya lahan pertanian, maka permintaan pasar tersebut masih belum terpenuhi.

“Produksi kami masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut. Kita perkirakan bakal makin bertambah karena sekarang jumlah warga yang sadar pola makan sehat meningkat. Sekarang kami mencoba menanam lagi di lahan 4,5 hektar,”ungkapnya.

“Alhamdulilah sekarang dengan support Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Bapak Catur Sulistiyanto membuat kami makin bersemangat dan optimis dengan program pertanian organik. Organik itu ibadah, karena tak meracuni tanah. Sekali lagi, dengan kehadiran Dispertanpangan melalui pak Catur, kami bersama akan bisa merubah mindset petani dari sebelumnya tergantung dengan pupuk kimia menjadi kembali ramah lingkungan karena organik,”papar Dewa.

narasumber pertanian organik dari Ngawi Jawa Timur saat melakukan tanya jawab tentang tanaman organik dengan THP PPL dan peserta pelatihan lainnya (Foto : istimewa)

Support Dinas Pertanian dan Pangan Kudus terhadap pertanian organik ini juga mendapat apresiasi dari Yeman Subeno, praktisi organik dari Kabupaten Ngawi Provinsi Jawa Timur.

Sebab berdasarkan pengalamannya, kehadiran suport dan dukungan dari pemerintah melalui dinas maka bisa terjadi percepatan perubahan pola pikir petani.

“Petani yang dulunya selalu ingin proses panen cepat dengan penggunaan pupuk kimia sintetis, maka pelan-pelan pasti berubah. Pupuk kimia itu semakin lama lahan yang dipakai menanam jadi turun hasilnya. Padahal pembuatan kompos sebenarnya tidak perlu pergi jauh dan tambah biaya. Jerami yang menjadi sisa panen, sebab yang dibawa pulang kan gabahnya. Itu tinggal dibenamkan ke tanah lagi bisa jadi kompos. Tapi kenyataan di lapangan kan jerami-jerami di itu dibakar. Sehingga sudah menghilangkan pupuk organik sekaligus menciptakan pencemaran asap ke lingkungan,”papar Subeno.

Dijelaskan, berdasarkan perhitungannya jumlah jerami adalah dua kali lipat berat gabah. Apakah setiap hektar sawah menghasilkan 6 ton gabah, maka jumlah jerami mencapai 12 ton.

“Jadi kalau petani membakar jerami setelah panen, itu sama dengan hutang kesuburan 12 ton pupuk organik. Sebab pasti untuk proses tanam lagi petani mengisinya dengan pupuk kimia. Jadi sudah saatnya kembali ke model pertanian organik atau ramah lingkungan,”lanjutnya.

Subeno sebagai pensiunan THL PPL di Kabupaten Ngawi memperkirakan dalam 5- 10 tahun kedepan kebutuhan pangan dalam negeri Indonesia akan semakin meningkat. Hal ini terlihat dari semakin bertambahnya jumlah penduduk dan sekaligus butuh makanan, namun luas sawah berkurang. Dampaknya, harga bahan pangan bakal terus naik.

“Kalau sudah begitu apakah orang-orang kota akan mendesak untuk import ?. Mungkin saja pemerintah memang punya uang untuk membayar. Namun masalahnya, apakah India, Thailand dan Vietnam mau menjual berasnya ke Indonesia ? sebab kebutuhan mereka juga meningkat dan munculnya hama sebagai dampak global warming. Jadoi solusinya ya, warga Indonesia menjadi mandiri pangan. Yakin lah, pada mendatang yang menjadi penyelamat adalah petani,”tandasnya. (J09/A02)

Komentar